Bismillahir rahmanir rahiim….
Senantiasa Berdzikir kepada Allah dan Sekularisme
Berdzikir kepada Allah SWT perkara yang diperintahkan olehNya. Berdzikir secara sederhana dapat diartikan sebagai mengingat. Mengigat Allah SWT dengan asma atau sifatNya. Sebagai seorang muslim Allah SWT dan rasulNya menganjurkan untuk senantiasa berdzikir kepada Allah SWT dalam tiap keadaan apa pun.
Di dalam Al quran disampaikan bahwa salah satu ciri hamba Allah SWT ialah mereka yang senantiasa mengingat Allah SWT dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Firman Allah SWT yang artinya:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Qs. Ali-Imran: 190-191).
Dari ayat di atas, dapat diketahui bahwa salah satu ciri dari hamba Allah SWT yang berakal (ulil albab) adalah mereka yang senantiasa mengingat Allah SWT dalam tiap keadaan. Dalam ayat disebutkan dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring ini bisa ditafsirkan bahwa maksudnya adalah mengingat Allah SWT dalam keadaan apa pun dan dalam bagaimana pun kondisi kita.
Tidak perbedaan antara dzikir dalam kondisi berdiri, dzikir dalam kondisi duduk ataupun dalam kondisi berbaring, semuanya diperintahkan untuk berdzikir atau mengingat kepada Allah SWT. Tidak ada perbedaan dzikir antara di pasar, di sekolah, di kampus dan terlebih lagi di tempat ibadah. Semuanya harus senantiasa berdzikir kepada Allah SWT baik itu dalam bentuk doa, sholat ataupun mengaitkan perbuatan atau keputusan dengan hukum syara’ (mengingat atau menimbang berdasarkan perintah atau larangan).
Di dalam Al quran masih banyak lagi indikasi dan sinyalimen akan perintah bagi seorang muslim untuk senantiasa berdzikir kepada Allah. Mengingat Allah banyak-banyak dalam kondisi atau situasi apa pun.
Sekularisme. Berbiicara tentang sekularisme, maka sekularisme adalah sebuah paham atau akidah yang memisahkan antara agama dengan kehidupan. Sehingga dengan landasan, paham, atau akidah sekularisme akan melahirkan sebuah frame berpikir, berprilaku atau mengaitkan Allah SWT (dzikir, mengingat) dalam kondisi tertentu.
Paham sekularisme mendikotomikan wilayah Tuhan dengan daerah-daerah, kondisi, atau situasi-situasi tertentu. Paham sekularisme tidak menghendaki manusia untuk membawa agama (Tuhan, Allah SWT) dalam setiap keadaan. Dalam urusan publik (muamalah, pemerintaha, politik, ekonomi, kesehatan, sosial, dsb), sekularisme mutlak menggunakan atau berfokus pada manusia. Tuhan atau agama tidak boleh dibawa di wilayah ini. Keputusan-keputusan yang ada ranah tersebut kemudian diputuskan tanpa memperhitungkan bagaimana timbangan agama terhadapnya. Agama atau Tuhan bisa dibawa jika itu menyangkut peribadatan atau dalam urusan privat (red: kepercayaan atau keyakinan).
Dari sini, kita bisa pahami bahwa akidah atau paham sekularisme secara sederhana bertentangan dengan perintah Allah SWT. Sekularisme berseberangan dengan pandangan Islam, yang mensyaratkan agar manusia tidak luput dari mengingat Allah SWT. 
Sebuah refleksi buat kita bahwa paham sekularisme memang bukan bagian dari Islam dan bukan dari Islam. Paham ini merupakan paham yang berasal dari orang kafir. Namun, patut kita perhatikan dan harus menjadi masalah dan kegelisahan buat kita bersama ummat Islam, bahwa paham seperti ini juga telah merasuki pola pikir dan pola tindakan dari sebagian ummat Islam.
Sehingga, apa-apa yang berasal dari pandangan atau lahir dari paham sekularisme adalah sesuatu yang salah. Salah mengambil dasar atau asas maka kesimpulan atau buah yang akan diambil atau didapat pasti akan salah pula. Sekularisme ini kemudian juga memiliki turunan atau derivat seperti paham kebebasan (liberalisme), kebebasan berekonomi dalam bentuk paham kapitalisme, hedonisme, permisifesme, dan lain yang sejenis.
Sebagai seorang muslim tidak ada jalan bagi kita untuk mengambil pandangan hidup sekularisme. Secara mendasar, kita diseru untuk mengingat Allah SWT dalam setiap keadaan. Mengingat disini bukan semata mengingat atau menyebut asma Allah SWT kemudian melupakan atau tidak melaksanakan hukum syara’ terkait apa yang kita kerjakan. Seorang muslim harus mengingat Allah dalam setiap keadaan artinya menghubungkan dan mengaitkan segala urusan, pekerjaan, aktivitas, memutuskan pendapat senantiasa berpatokan pada perintah atau larangan Allah SWT. Oleh karena itu, kita seharusnya senantiasa memikirkan konsekuensi setiap tindakan yang kita lakukan. Konsekuensi dimaksud adalah apa dan bagaimana pandangan Allah SWT atau pandangan hukum Islam terkait urusan, aktivitas, pekerjaan yang kita lakukan. Baca postingan saya sebelumnya, berpikir tentang konsekuensi tindakan.
Oleh karena itu, mari kita kembali menormalkan pandangan hidup kita, prinsip atau tindakan kita. Mengidealkan kembali diri kita sebagai seorang muslim. Muslim yang senantiasa berpegang teguh pada agama Allah SWT. Muslim yang senantiasa mengingat Allah SWT dalam tiap kondisi apa pun. 
Janganlah kita mengambil sebagian agama ini kemudian meninggalkan yang lain. Agama ini telah lengkap. Tidak perlu ditambah-tambah, tidak juga kurang karena itu tidak perlu mencari atau mengambil pandangan hidup yang selain dari Allah SWT. Semoga kita bisa mengambil manfaat…Wallahu ‘alam. [Indrawirawanm]