Tersebutlah dalam sebuah riwayat pada hari kedua setelah pengangkatannya sebagai khalifah, Abu Bakar membawa bahan-bahan pakaian dagangan di atas pundaknya dan pergi untuk menjualnya. Sebelum menjadi khalifah ia adalah seorang pedagang bahan pakaian. Di tengah jalan, ia berjumpa dengan Umar bin Khattab yang bertanya kepadanya “Hendak kemana?” Dijawab “Ke pasar”, Umar berkata “Apa yang hendak Anda lakukan, sedangkan Anda telah menduduki jabatan sebagai pemimpin kaum muslimin?” Kata Abu Bakar “Lalu dari mana aku akan memberi makan keluargaku?” Umar berkata “Pergilah kepada Abu Ubaidah (pemegang kunci baitul maal), agar ia menetapkan sesuatu untukmu.” Keduanya lalu pergi ke tempat Abu Ubaidah, yang segera berkata “Aku akan menetapkan bagimu uang yang cukup sebagaimana yang dibutuhkan untuk makanan seorang dari kebanyakan kaum Muhajirin, yang bukan paling utama diantara mereka dan tidak pula paling rendah diantara mereka. Juga pakaian untuk musim dingin dan musim panas. Apabila telah usang, kembalikanlah kepada kami dan Anda akan mengambil gantinya.” Maka ditetapkan oleh Abu Ubaidah dari baitul maal empat ribu dirham setahunnya.
Mewujudkan Kepemimpinan Ideal Mengikuti Khulafaur Rasyidin 1
Abu Bakar adalah seorang khalifah pengganti Rasulullah SAW. Beliau dengan kesederhanaannya berat memikul amanah sebagai pemimpin. Tidak bangga dengan derajat kepemimpinan yang didapat. Takut untuk mengambil harta kaum muslim secara bathil, dan merasa cukup dengan harta yang diberikan dari sebagian harta baitul maal. Tidak mengambil harta kaum muslim secara berlebihan, dan sekalipun mendapat fasilitas dari negara sebatas agar tidak terlalaikan dari mengurus urusan ummatnya. Sikap dan kelakuannya pertengahan sebagaimana keputusannya mengambil bagian dari baitul maal tidak sama dengan orang paling utama dalam harta kekayaan diantara golongan mereka dan tidak berada paling rendah sehingga hanya mencukupi untuk kebutuhan pokoknya.
Begitulah model kepemimpinan yang diriwayatkan, menjadi hikmah dan ibrah tak bertepi dan tak berujung yang dilakukan oleh Abu Bakar As-Shidiq sebagai khalifah, pemimpin pengganti Rasulullah Muhammad SAW dalam urusan pemerintahan. Abu Bakar tampil sebagai pemimpin yang ideal.
Idealisme Ideal: Datang dari Allah SWT
Meletakkan penilaian ideal pada manusia tentu akan menemukan celah di dalamnya. Manusia tidak mampu memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang dan tidak mengetahui hakikat sesuatu sebelum kejadiannya. Maka, penilaian tentang ideal harus diletakkan pada sesuatu yang haq, yakni datang dari Sang Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu , padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi  (pula) kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).
Allah SWT telah menetapkan untuk manusia segala sesuatu, mengatur dan mengetahui segala kebutuhan manusia berupa petunjuk yang ada di dalam Al Quran. Manusia tinggal menggali, memahami, menetapkan dan melaksanakan apa yang tercantum di dalamnya. “Dan Kami turunkan kitab Alquran untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi kaum Muslimin”. (QS An Nahl: 89).
Dalam hadits disampaikan bahwa tugas pemimpin pemelihara dan pengatur urusan ummat. Sedang statusnya sebagai pemimpin adalah amanah yang akan dipertanggung jawabkan. “Seorang imam adalah pemelihara dan pengatur urusan dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas pemeliharaan dan pengaturannya.” (HR. Muslim). Hadits dari Abdullah bin Umar r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Semua kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam (amir) pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang isteri pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (karyawan) bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya.” (HR. Bukhari).
Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang melaksanakan apa yang ada di dalam Al Quran dan As sunnah. Mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW kemudian berlepas diri dari perbuatan bid’ah. Amanah kepemimpinan yang didapatkan tiada lain digunakan untuk menegakkan hukum-hukum Allah, mengajak kepada kebenaran (ma’ruf) dan mencegah kepada kemungkaran.
Dalam kitab Tarikhur Rusul Wal Muluk karya Imam Abu Ja’far Muhammad bin jarir Ath-Thobari diceritakan dalam suratnya yang dikirimkan kepada penduduk Mesir setelah mengangkat Qais bin Sa’ad sebagai wali negeri Mesir, Sayyidina Ali telah berkata di dalamnya “Ketahuilah, bahwa kami berjanji kepadamu untuk bertindak atas dasar Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya saw, melaksanakan segala hak kamu dengan benar, melaksanakan sunnah beliau dan selalu bersikap tulus terhadap kamu.” Maka Qais bin Sa’ad membacakan surat itu kepada mereka, lalu ia meneruskan ucapan Sayyidina Ali “Maka apabila kami tidak berbuat apa yang telah kami janjikan tersebut, kalian terlepas dari kewajiban untuk mematuhi ba’ai kamu kepada kami.”
Pemimpin Ideal, Bagaimana Ia Terlahir atau Terbentuk ?
Ada sebuah perdebatan yang pernah terjadi tentang bagaimana kepemimpinan. Perdebatan itu adalah dua kutub pertanyaan yang berlainan, apakah pemimpin itu dilahirkan atau dibentuk ?
Jika kita ingin menyelami lebih dalam, maka kedua pernyataan di atas yang tampil bertentangan sebenarnya tidak demikian. Keduanya memiliki realitas atau kenyataan yang berbeda. Tidak boleh dihantamkan atau didikotomikan satu sama lain.
Pemimpin dilahirkan. Teori ini menyatakan bahwa pemimpin yang hebat atau ideal adalah pemimpin yang dilahirkan. Namun, fakta atau realitas pemimpin ideal yang dilahirkan untuk manusia hanya berlaku bagi kepemimpinan nabi atau rasul. Nabi dan rasul yang diberi amanah menyampaikan risalah kepada ummat manusia merupakan pemimpin yang dilahirkan. Namun, kepemimpinan mereka terkhusus dalam hal memimpin manusia dalam risalah atau agama.
Pemimpin dibentuk. Manusia biasa selain nabi atau rasul bukan merupakan pemimpin yang dilahirkan. Sebagaimana kepemimpinan para khulafaur rasyidin, para pengganti rasul dalam hal pemerintahan yang adil dan benar. Kepemimpinan mereka yang ditunjuki tidaklah untuk melanjutkan tugas kerasulan atau menambah risalah Allah SWT dikarenakan risalah Allah SWT telah lengkap sebelum meninggalnya rasul. Mereka hanya melanjutkan kepemimpinan rasul dalam hal mengatur urusan rakyat dan pemerintahan.
Mereka adalah manusia biasa yang kemudian terbentuk dikarenakan lingkungan atau sistem yang membentuk mereka. Abu Bakar begitu sederhana walaupun tergolong bangsawan kaya raya, begitu lemah lembut walaupun memiliki nazab keturunan yang terhormat terbentuk dari hasil gemblengan rasul. Demikian pula, mereka tampil begitu memesona dikarena kepemimpinan mereka masih diselimuti oleh penerapan aturan Allah SWT dalam setiap lini kehidupan termasuk dalam pemerintahan. Sosok Umar yang begitu tangguh namun hatinya sangat lembut, kuat memegang keadilan lagi gigih dalam menerapkan dan menyebarkan risalah Islam.
Pemerintahan yang mereka emban adalah model pemerintahan terbaik. Diwariskan dari rasul. Menjaga penerapan dua pusaka peninggalan rasul, Al quran dan sunnah. Mereka terjaga dikarenakan interaksi mereka dipenuhi dengan saling nasihat menasihati dalam kesabaran dan kebenaran. Mereka menjaga dan menyayangi keluarga mereka dengan suguhan kasih sayang ketaatan. Harta, kehormatan, akal, keamanan dan darah kaum muslim mereka junjung dan jaga dikarenakan mereka ada untuk memimpin agar hukum-hukum Allah SWT dapat diterapkan.
Rakyat mereka taat dan tak segan menasihati atas dasar taat pada Allah dan rasulNya. Mereka ingkar jikalau pemimpin mereka lari dari kebenaran dan beranjak jika memerintahkan kepada maksiat. Mereka tahu dan paham bahwa tiada taat pada makhluk jika mengajak kepada kemaksiatan.
Kisah-kisah keberhasilan para khulafaur rasyidin dalam memimpin tidak akan kita temukan realitasnya pada hari ini. Kepemimpinan ideal mereka lahir bukan semata pribadi mereka yang agung lagi memesona. Namun, dikarenakan sistem, aturan, hukum, dan bentuk interaksi yang mereka buat dan pertahankan yang senantiasa berhukum atau mengikuti aturan dari Allah SWT. Cinta dan bencinya mereka semata karena Allah SWT.
Mereka ridha dengan segala keputusan dari Allah dan rasulNya. Takaran keimanan mereka diuji dengan menjadikan segala keputusan rasulNya sebagai hakim terhadap apa yang mereka perselisihkan. “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidaklah beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa:65).
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al Hasyr: 7).
Berjuang: Beriman dan Beramal Saleh Mewujudkan Kepemimpinan Ideal
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah (keadaan) suatu kaum kecuali setelah mereka merubah (keadaan) diri mereka sendiri (QS. Ar Ra’du:11).
Kepemimpinan yang ideal merupakan harapan kita semua. Menjadi sebuah harapan besar dikarenakan dalam realitas kehidupan kita belum berwujud. Namun, sebuah harapan perubahan bukan semata harapan. Darinya perlu ada usaha mengubah keadaan yang tidak ideal menjadi keadaan yang ideal atau sesuai harapan.
Ummat Islam harus berjuang dengan segala daya dan upaya untuk mewujudkan harapan ideal ini. Kaidah kausalitas harus dijalankan dengan sebaik mungkin, mengikuti bagaimana metode, jalan atau thariqah rasul melakukan perubahan, dan senantiasa melibatkan Allah SWT dalam tiap tindakan. Kondisi ideal semata datang dari pertolongan Allah SWT.
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nur: 55).
Dalam ayat di atas, ada dua syarat yang diberikan oleh Allah SWT kepada ummat Islam jika ingin mendapatkan kepemimpinan yang ideal, yakni beriman dan beramal saleh. Keimanan diwujudkan dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. Menerapkan Islam dari akar hingga daun. Mengamalkan Islam dari level individu sampai pada level masyarakat hingga negara. Keshalihan dirawat bukan semata pada keshalihan individu namun meluas dan membesar menjadi keshalihan sosial. Mewujudkan Islam secara totalitas sebagai konsekuensi keimanan, tidak menerapkan secara parsial, setengah-setengah karena mengetahui bahwa Allah SWT membenci mereka yang mengambil sebagian agama ini kemudian meninggalkan sebagian yang lainnya.
Selain beriman, juga dilakukan dengan jalan beramal saleh. Islam diterapkan untuk menjawab segala permasalahan ummat dikarenakan Islam sudah punya jawabannya. Islam dipahami bukan semata ritualitas namun bersifat praktis memberi solusi. Berekonomi dengan jalan Islami tanpa ribawi, pergaulan diatur dengan aturan Islam yang mewujudkan kemuliaan wanita dan menjaga martabat pria. Wallahu ‘alam. []

Sumber Bacaan:

‘Athiyat, A. 2010. Jalan Baru Islam: Studi tentang Transformasi dan Kebangkitan Umat. Pustaka Thariqul Izzah. Bogor.
Al-Maududi. A.A. 2007. Khilafah dan Kerajaan: Konsep Pemerintahan Islam serta Studi Kritis Kerajaan Bani Umayyah dan Bani Abbas.Penerbit Karisma. Bandung.
Kurnia, M.R. 2013. Menjadi Pembela Islam. Cet. VII. Al Azhar Press. Bogor.