Meniscayakan Perubahan menuju Kehidupan Islam
Bismillahir rahmanir rahiim….!!!
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh…. !!
Perubahan, sebuah kata yang akrab bagi kehidupan ini, bagi kehidupan manusia. Perubahan adalah sebuah keniscayaan bagi kehidupan, keniscayaan bagi sesuatu yang dinamis, keniscayaan bagi makhluk, keniscayaan bagi sesuatu yang terbatas.
Hidup di dunia ini menuntut adanya perubahan, baik itu perubahan yang kita desain sendiri atau akibat dari perubahan itulah yang membuat kita terpaksa tergeser dari tempat duduk nyaman, comfortable zone kita. Sehingga perubahan akan sangat dekat dan tidak akan lekang dari sebuah kedinamisan. Kedinamisan hidup menuntut sebuah perubahan dan perubahan itu sendiri menandakan adanya hidup dan kehidupan.
Berbicara lebih jauh tentang perubahan, menganalisa perubahan yang ada kemudian membuat kategorisasi berdasar bentuk dan fenomenanya yangb terindera kemudian diproses oleh akal, maka perubahan bisa dikategorisasi menjadi dua berdasarkan objek atau fakta yang ingin dirubah. Kedua objek itu adalah objek materil dan objek non-materil.
Objek materil adalah objek-objek yang bisa di indera dan sifatnya adalah tetap, biasanya keadaannya stabil berdasarkan waktu dan tempat. Objek materil ini bisa berupa objek-objek fisik, seperti batu, tanah, gunung, dan lain sebagainya. Objek materil ini untuk berubah atau melakukan perubahan terhadapnya maka perlu dilakukan penelitian untuk merumuskan formulasi struktur pembentuknya dan menganalisis berbagai faktor atau variabel bahkan zat-zat yang dapat merubahnya. Perubahan materi yang dilakukan oleh manusia biasanya dilakukan dalam skala laboratorium atau dalam serangkaian percobaan.
Objek materil yang diubah ini bisa membuahkan teknologi baru buat manusia. Menciptakan teknologi-teknologi yang bisa memudahkan manusia. Untuk melakukan perubahan pada objek materil maka sifatnya universal tidak dibatasi oleh sebuah keyakinan tertentu, doktrin, kepercayaan, atau pandangan hidup yang khas atau khusus. Semua manusia punya kesempatan yang sama untuk melakukan perubahan terhadap obyek ini.
Obyek yang kedua dalam melakukan perubahan adalah obyek yang sifatnya non materil atau bentuknya abstrak. Obyek non materil ini bisa berupa kezhaliman, ketidak adilan, kesedihan, kebahagiaan, cinta, benci, dan lain sebagainya.
Obyek non materi ini tidak sembarang bisa melihat, merumuskan atau mengamati. Sifatnya khas atau khsusus, hanya bisa di indera atau bisa teramati oleh orang yang mengembangkan pandangan hidup tertentu. Contoh misalnya, pandangan hidup kapitalisme menganggap tidak masalah menguasai seluruh sumber-sumber ekonomi yang ada, tidak masalah jika kita hidup dalam kompetesi usaha kemudian meninggalkan kepekaan sosial, dsb. Pandangan hidup liberalisme menganggap bahwa tidak bermasalah jika kita hidup dalam suasana hedonisme, memiliki pandangan yang nyeleneh, atau menganggap semua agama adalah benar. Baca juga, hari Raya Imlek dan Gusdur.
Maka, untuk obyek non materi ini akan menghasilkan defenisi berbeda tentang sukses, berbeda dalam hal memandang kezhaliman atau ketidak adilan.
Jika, obyek non materi menghasilkan pandangan yang berbeda terhadap sebuah fenomena atau fakta maka manusia tentu akan berbeda dalam memandang arti kesuksesan, kezhaliman, ketidak adilan, kebahagiaaan, cinta dan benci. Dari serangkaian hal ini, bisa saja akan muncul berbagai pertentangan, perselisihan dalam memandang suatu hal yang sama namun beda cara pandang. Oleh karena itu, dibutuhkan cara pendang yang benar atau hakiki yang bisa menghukumi, menjadin patokan serta alat ukur apakah sebuah fakta atau obyek non materil tergolong kepda sesuatu yang dibenci atau yang disukai. Penyatuan pandangan ini mutlak diperlukan agar meminimalisir kejahatan yang merusak kemudian mengantarkan rahmat, kasih sayang bagi jamak manusia.
Menakar Perubahan dengan Islam
Untuk mendapatkan pisau bedah dalam menganalisis perubahan yang terjadi pada obyek non materi maka jalan yang sempurna adalah dengan menggunakan Islam sebagai pisau bedahnya. Kenapa Islam, karena Islam adalah agama, pandangan hidup yang haq berasal dari pencipta langit dan bumi beserta segala isinya, Alllah SWT. Kenapa harus Islam ? Insya Allah akan dibuat postingan tersendiri untuk ini. Kenapa bukan manusia yang merumuskan atau membuat jalan hidupnya sendiri ? Jawabannya karena manusia itu terbatas, dan terbatas itu pasti punya celah, dan yang punya celah pasti akan cacat dan nantinya akan mendatangkan banyak kesalahan dan masalah.
Bersambung….