Dalam hidup ini, kita mengingat lebih lama terkait sesuatu yang berkesan buat kita. Bukan semata berkesan namun sangat berkesan. Kesan itu dapat berupa puncak kesedihan, kebahagiaan, ketakutan, kamarahan, mungkin puncak stress kita atau sesuatu yang paling menegangkan buat kita. Intinya, sesuatu yang melibatkan emosi yang terdalam dalam hidup kita, maka kita akan ingat.
cumlaude indrawirawan
Source: http://sd.keepcalm-o-matic.co.uk/
Tepatnya, Jumat, 16 Januari 2015 saya bersama tiga orang teman bersama-sama ikut ujian akhir prodi. Ujian meja dalam bahasa yang sering dipakai mahasiswa. Ujian meja itu adalah ujian tentang skripsi dan ujian mata kuliah yang terkait dengan konsentrasi keilmuan yang kita geluti.  Setelah ujian meja dilaksanakan, maka secara resmi seorang mahasiswa akan dicabut gelar mahasiswanya dan berhak menyandang predikat akademik tertentu. Sering pula kegiatan tersebut disebut dengan yudisium.
Saya merasakan hidup saya sangat berat pada waktu itu. Sebabnya, karena ada beberapa perpaduan perasaan yang membuat perasaan saya campur aduk. Campur aduk hingga membuatmu mau muntah atau ingin mengeluarkan semua isi perasaanmu dengan berteriak atau ingin menghantam sesuatu. Cara yang terakhir yang saya sebut merupakan cara yang biasa dilakukan laki-laki disaat berada pada puncak kemarahan.
Yudisium pada waktu itu betul-betul membuat saya seperti mimpi atau bagai manusia tanpa harap dan asa. Diam membisu. Dilematis kalau saya bisa katakan pula demikian. Bagaimana tidak, mendapat gelar sarjana merupakan tujuan dari setiap mahasiswa yang belum mendapatkannya. Namun, menjadi kerinduan tersendiri dan ada perasaan tidak mau berpisah dengan masa mahasiswa, bagi seorang yang yudisium.
Dalam yudisium tersebut, juga ada hal yang istimewa. Saya termasuk dalam sarjana yang lulus dengan cum laude. Suatu tujuan tersendiri bagi sebagian besar mahasiswa di awal kuliah. Ya, saya bangga dan terharu dapat menyandangnya. Walaupun, untuk mendapatkannya cukup terseok-seok bagi saya.
Sebenarnya, pada saat semester 7 saya merasa bahwa saya tidak akan mendapat gelar cumlaude pada akhirnya. Perlu anda tahu bahwa saya lulus pada semester 9 dengan IPK 3,82. Lewat peraturan baru akademik yang menegaskan bahwa yang berhak mendapat cumlaude pada strata S1 adalah mereka yang mempunyai IPK di atas 3,5 dan masa studi tidak boleh melebihi 9 semester. Peraturan baru inilah yang membuat saya juga dinobatkan lulus cumlaude. Walaupun nyaris tidak bisa meraihnya. Pasalnya saya lulus dengan masa studi kurang lebih 4 tahun 4 bulan. Hampir memasuki semester 10.
Jika ditanya bagaimana rasanya lulus Cum Laude?
Maka, saya mau mengatakan bahwa memang betul ada kebanggaan tersendiri buat saya menyandangnya. Namun, penilaian tersebut bagi saya belum ada artinya jika kita tidak mampu fight dalam kehidupan, mengimplementasikan ilmu kita dan tentunya membuat kita semakin tunduk kepada Allah SWT.
Rasa lulus cum laude sebenarnya telah saya utarakan panjang lebar di atas. Seperti itulah yang saya rasakan. Lulus cum laude pula, jangan membuat kita lupa mawas diri. Jangan lupa kulit kita. Maka kacang yang lupa kulitnya bisa jadi tidak akan berharga. Hehehe…Kecuali dilumuri dengan coklat.
Seberapa penting Cum Laude?
Jika ditanya demikian, maka ada beberapa varian jawaban yang perlu kita sampaikan. Sangat penting, penting, dan tidak penting. Ini termasuk dalam skala Likert, jika ini penelitian. Lanjut, varian jawaban di atas juga perlu ada indikator yang mampu menjelaskan bagaimana itu sangat penting, penting, dan tidak penting. Kenapa seperti itu?
Saya mungkin belum bisa menampilkan data-data ilmiah terkait hal ini. Namun, ada sebagian orang beranggapan dan sebagian lagi sudah merasakan bahwa cum laude itu tidak penting. Cum laude boleh digenggam namun yang penting adalah kualitas diri, katanya. Sebagian lagi menyatakan bahwa itu sangat penting bagi kehidupannya.
Secara pribadi saya menyatakan bahwa lulus cum laude itu penting. Saya memberikan nilai 2 pada tingkat kepentingan (artinya penting) dengan 3 tingkat kepentingan. Indikatornya bagi saya, salah satunya karena akan mempermudah bagi kita untuk menlanjutkan pendidikan jika ingin lanjut kuliah. Selain itu, boleh jadi ia menjadi bahan pembicaraan bagi pembicaraan kita dengan orang lain. Hehehe…
Di akhir semua ini, saya ingin mengucap Alhamdulillahir rabbil alamin atas segala nikmat yang diberikan Allah kepada saya.