Bismillahir rahmanir rahiim…
Keberadaan Hidup Kaum Muslim
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Q.S. Ad-Dzariyat [51]: 56)
“Shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta Alam.” (Q.S. Al-An’am [6]: 162).
Keberadaan hidup seorang muslim adalah beribadah kepada Allah SWT. Di dalam Al Quran jelas bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia hanyalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Dengan landasan berpikir atau pemahaman seperti ini maka seluruh aktivitas kehidupan manusia harus diarahkan untuk beribadah kepada Allah SWT.
Seorang muslim harus mempelajari apa yang ada di dalam Al Quran dan hadits (sunnah, khabar) dari Rasulullah SAW agar dapat beribadah dengan baik dan benar. Agar segala aktivitas kehidupan kita di dunia ini bisa dikategorisasikan sebagai ibadah kepada Allah maka tiada jalan lain buat seorang muslim mempelajari Islam itu sendiri. Dengan mempelajari Islam, maka tentu kita akan mengetahui apa yang diperintah dan apa yang dilarang oleh Allah. Apa yang diperintahkan oleh Allah, maka kita harus melaksanakannya. Sedang apa yang dilarang oleh Allah SWT maka kita harus meninggalkannya. Karena tidak semua aktivitas yang dilakukan oleh manusia bisa terkategorisasi ibadah jika patokannya berasal dari manusia.
Amaliah atau aktivitas kehidupan dunia bisa dikategorisasi sebagai ibadah kepada Allah SWT jika manusia senantiasa mengikat diri atau kepada aturan Allah SWT, mengikuti sunnah atau amaliah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW (i’tiba) dan ikhlas semata karena Allah SWT. Dua syarat ini harus dipenuhi agar aktivitas yang kita lakukan dapat dikategori sebagai ibadah kepada Allah SWT.
Aktivitas yang dimaksud bukan semata aktivitas yang hanya disukai oleh manusia. Karena terkadang ada aktivitas ibadah yang kemudian menurut penilaian manusia tidak sejalan dengan dirinya. Maka ibadah tidak boleh dilakukan menurut sekehendak manusia, yang sesuai saja dengan diri manusia dijalankan kemudian yang berseberangan dengan apa yang diingini oleh manusia kemudian ditinggalkan. Maka tentu disini, kehendak manusia harus tunduk kepada syara’ (aturan Allah SWT). 
Kewajiban untuk tunduk kepada syara’ (aturan Allah SWT) merupakan konsekuensi keberimanan kepada Allah SWT. Tunduk kepada aturan Allah SWT berarti segala aktivitas manusia harus disesuaikan dengan syara’ itu sendiri. Bukan aturan Allah SWT kemudian yang dicocokan dengan kehendak manusia. Sehingga disini manusia harus belajar untuk cinta dan benci hanya karena Allah SWT.
Maka keberadaan hidup seorang muslim harus senantiasa selaras dengan perintah dan larangan Allah SWT. Lebih spesifik lagi bahwa tujuan hidup itu hanyalah untuk Islam itu sendiri. Karena Islam adalah pedoman hidup yang terdiri dari perintah dan larangan dari Allah SWT.
Jika tujuan seorang muslim hidup di dunia ini hanya semata untuk Islam itu sendiri maka dia harus senantiasa mengikat diri dengan aturan Islam, menerapkannya, memperjuangkannya, membelanya hingga menyebarluaskannya. Dengan cara seperti ini maka Islam akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Namun, realitas yang tergambar hari ini bahwa seorang muslim telah jauh dari tujuan hidupnya di dunia ini. Hidupnya tidak lagi semata untuk Islam itu sendiri. Persoalan memperjuangkan Islam ataupun menyebarkan riasalah Islam tidak lagi menjadi tujuan dan agenda utama dalam kehidupan. Kehidupan mereka lebih banyak dipenuhi dengan kecintaan kepada dunia. Mengejar cita-cita dunia kemudian menempatkan Islam pada posisi yang lebih belakang.
Islam ditempatkan hanya sebatas ritualitas dan spiritualitas semata. Islam dikenal hanya sebagai sebuah ritualitas mirip dengan ajaran kepercayaan dan keyakinan lain. Islam tidak lagi menjadi pandangan hidup yang menyeluruh dan sempurna bagi kehidupannya. Maka tidak jarang bahwa terdapat banyak kaum muslim kemudian dalam hal ritualitas kemudian menggunakan Islam namun disatu sisi dalam hal pengambilan keputusan hidup, berekonomi, berinteraksi, berpolitik kemudian mengambil cara pandang di luar Islam.
Hilangnya atau kaburnya akan tujuan hidup seorang muslim membuat posisi Islam dan ummat Islam menjadi lemah. Islam tidak diemban lagi, tidak diperjuangkan, tidak dibela ataupun disebarluaskan. Sangat kontras perbedaan dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat lakukan. Keberadaan mereka hidup semata karena Islam. Mereka memperjuangkan Islam, membelanya kemudian menyebarluaskan hingga ujung terjauh yang mereka bisa.
Inilah realita yang terjadi hari ini. Untuk mengembalikan kejayaan Islam maka jalan yang harus ditempuh adalah dengan kembali kepada tujuan hidup seorang muslim. Beribadah kepada Allah SWT, mengikat diri dengan syara’ (aturan Allah SWT). Hidup hanya karena Islam. Wallahu ‘alam. [Indrawirawan]