Bismillahir rahmanir rahiiim
Senang sekali saya pada kesempatan ini dapat membuat postingan lagi. Saya pikir sudah agak lama saya tidak membuat postingan. Postingan kali ini membahas tentang buku yang telah saya baca sebelumnya. Judul bukunya: Madilog karya Tan Malaka. Madilog itu singkatan dari Materialisme, Dialektika dan Logika.
Kaum Idealis dan Kaum Materialis
Kata Madilog adalah sebuah jembatan keledai untuk mengingat sesuatu. Dalam bukunya, Tan Malaka menulis bahwa ia mempunyai kebiasaan untuk meringkas intisari dari sebuah ilmu. Pun demikian dengan bukunya, Madilog.
Di bagian awal, buku ini banyak mengupas bagaimana sejarah lahirnya buku ini. Bagaimana kehidupan Tan Malaka selama pelarian. Hingga ia bisa merampungkan bukunya.
Pada tulisan ini kita tidak akan mereview buku Madilog. Namun, saya hanya memberikan komentar terhadap pandangan hidup dari seorang Tan Malaka. Tan Malaka dikenal sebagai tokoh komunis Indonesia. Patut kita ketahui bahwa, orang yang berpaham komunis akan melandaskan pola pikirnya dalam tiga kata kunci penting yakni materialisme, dialektika, dan logika. Madilog. Seakan Tan Malaka ingin memperkenalkan lebih jauh mengenai komunisme itu sendiri.
Berbicara tentang Materialisme Tan Malaka
Di dalam bukunya, Tan Malaka menguraikan sejarah pemikiran yang ada di dunia. Pertentangan antara kaum idealis dengan kaum materialis. Kaum borjouis dengan kaum proletar. Inilah salah satu tipe dari paham komunisme, yakni adanya pertentangan antara dua hal yang berbeda. Tesa, antitesa, sintesa.
Kaum idealis menyandarkan ilmu itu berasal dari dalam, idea. Dicontohkan oleh Tan Malaka yang menurut pemahaman David Hume (tokoh kaum idealis) bahwa rasa asam jeruk itu hanya ada di lidah manusia, berat jeruk itu hanya ada pada tangan manusia, dan bentuk dari jeruk itu hanya ada dalam perabaan manusia. Ilmu itu sudah ada dalam diri manusia. Berarti segala sesuatu telah ada dalam diri manusia, sumber pengetahuan adalah diri manusia. Idealis.
Berbalik dengan kaum idealis, kaum materialis menyatakan bahwa pengetahuan itu ada di luar dri manusia. Kalau dibuat dengan kalimat sederhana dijelaskan seperti ini, “bukan pikiran yang menentukan pergaulan, tetapi pergaulanlah yang menentukan pikiran“. Bagi kaum materialis, sumber dari segala pengetahuan adalah materi itu sendiri. Penyebab awal bagi mereka adalah materi kemudian muncul ide. Berarti, materi mendahului pemikiran (ide). 
Lebih lanjut, pemikiran tentang materialisme ini kemudian ditegaskan dengan berbagai bukti dan hukum sains yang ada. Misal, dalam ilmu biologi mereka membgambi pendapat Darwin tentang teori Evousi. Bahwa kehidupan di dunia ini berasal dari sesuatu yang sederhana menjadi makhluk yang kompleks kemudian mampu untuk berpikir. Materi kemudian Idea. Dalam ilmu fisika, mereka mengambil hukum kekekalan energi, bahwa energi tidak bisa diciptakan dan dimusnahkan hanya bisa diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Setali dengan hukum kekekalan energi, hukum keadaan tetap Dalton juga digunakan dalam bidang kimia. Semua zat yang ada di muka bumi ini dalam keadaan tetap. Pemikiran ini meniscayakan mereka untuk tidak percaya dengan Sang Pencipta.
Dikotomis Salah
Secara langsung dapat kita ketahui bahwa terjadi pertentangan antara kaum idealis dengan kaum materialis. Dikotomis salah.
Jika kita ingin berpkir rasional berdasarkan fakta yang ada, maka tidak semua yang ada di dunia materialisme saja dan kemudian idealisme semata. Namun, di dunia ini idealis dan materialis itu beriringan. Dapat saya contoh seperti ini, rasa lapar itu bukan semata muncul karena kita melihat makanan. Jikalau menurut kaum materialis, lapar itu muncul disaat kita melihat makanan. Maka sesungguhnya, lapar itu memang pemahaman. Namun, ia bukan lahir dari pemahaman setelah melihat fakta atau benda. Lapar lahir dari kebutuhan jasmani yang kemudian otak memikirkan bahwa ia sedang lapar. Adapun makanan, memang menimbulkan pemahaman akan lapar. Tetapi, ia hanya bersifat merangsang. Memperkuat pemahaman bahwa kita memang lapar. Jadi, lapar itu sudah ada dalam diri kita tanpa harus ada makanan yang terindera. Patut kita juga ketahui, bahwa lapar dan kebutuhan jasmani yang lain bukan lahir dari pemahaman. Bukan sebab awal. Sebab awal dari lapar adalah kebutuhan jasmani dalam diri kita yang ingin dipuaskan.
Membantah kaum idealis dan materialis dicontohkan oleh Syaikh Taqiyuddin An Nabhani. Seorang yang tidak pernah melihat tulisan China kemudian diperlihatkan tulisan China kepadanya untuk membacanya dan memahami isinya. Tulisan itu kemudian diperlihatkan kepadanya berkali-kali namun belum menghasilkan sebuah pemikiran. Diperlihatkannya lagi dan lagi, maka ia pun belum mampu untuk memahami apa maksud dari tulisan China tersebut. Jadi, pengetahuan itu tidak semata lahir dari sebuah ide dan materi saja. Namun, harus ada informasi awal terkait benda atau fakta yang kita indera.
Tulisan China itu tetap menjadi tulisan China tanpa ada pemahaman yang muncul tanpa ada informasi awal terkait dengan fakta yang ada. Sebuah realitas akan tetap menjadi teka-teki jika tidak ada informasi dalam diri kita. Mencotohkan tentang kebutuhan jasmani memang mudah karena kebutuhan jasmani sudah elekat dalam diri kita, built in sehingga tidak perlu dicari informasi awalnya dari luar. Pengetahuan itu sudah ada dalam diri kita namun yang perlu ada dalam diri kita hanyalah tinggal membahasakan saja. Berbeda dengan fakta tulisan China tadi.
Dalam kehidupan kita, tidak boleh ada dikotomis antara idealisme dan materialisme. Idealisme harus diuji dengan benda. Perlu pembuktian. Materialisme pun membutuhkan idea untuk memikirkan bentuk, benda, fakta yang belum ada pada masanya. Wallahu ‘alam bis shawwab.