Sebagai seorang suami dan orang tua, saya sering dihadapkan pada situasi yang menuntut ketegasan. Salah satu yang menjadi concern saya adalah tentang jajan anak.
Bagi saya, ini bukan sekadar memenuhi keinginan anak atau mampu tidak mampu untuk membelikan. Ini tentang tanggung jawab sebagai orang tua untuk menjaga kesehatan anak.
Tapi, di tengah tanggung jawab tersebut, ada momen-momen dimana orang-orang terdekat terlihat tidak memahami atau bahkan longgar terhadap hal yang kami anggap penting ini.
Jajan Anak, Tantangan yang Tak Sesederhana Kelihatannya
Anak-anak dan jajanan manis seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Pun, seperti itu yang saya perhatikan pada anak pertama saya, Rumaisha.Setiap kali, kami berjalan melewati koridor Indomaret atau Alfamart, mata anak saya langsung berbinar saat melihat rak-rak coklat, permen, atau snack berwarna-warni.
Saya berusaha memalingkan perhatiannya. Misalnya, dengan mengajaknya berkeliling ke rak lain. Sebagai orang tua, saya tahu jajanan manis tidak baik untuk kesehatan gigi dan tubuhnya. Tapi, ternyata tidak semudah itu.
Saya bisa mengalihkan perhatiannya, membujuknya saat bersama saya. Namun, saya kalah saat ia di sekolah atau bersama teman-temannya. Di sana, ia sering tidak bisa menahan godaan untuk membeli jajanan manis.
Anak menirukan teman di sekolah adalah tantangan tersendiri. Tapi, tantangan terberat justru datang dari orang terdekat. Saya berusaha tegas dan selektif memilih jajanan untuk Rumaisha. Saya lebih memilih buah-buahan atau camilan rendah gula.
Namun, ketegasan ini sering “digoyahkan”. “Ah, sekali-kali nggak apa-apa,” begitu kata mereka.
Pengalaman Pribadi
Suatu ketika, Rumaisha mengalami sakit gigi. Gigi tengah bolong. Awalnya hanya pada bagian kanan bawah, setelah itu sumber sakit pindah ke bagian kiri atas dan bawah.
Saya baru sadar, itu terjadi karena sudah hampir sepekan sebelumnya, Rumaisha mengonsumsi banyak jajanan yang bergula tinggi. Ada bembeng, bolu, dan coklat.
Jajanan itu pemberian tantenya dari Jawa. Ada satu paket dus besar yang dikirimkan. Dus itu memang sangat besar. Untuk sampai di Makassar, paket itu harus dikirim dengan ekspedisi.
Jajanan itu pemberian tantenya dari Jawa. Sebagai menantu, saya senang. Keluarga besar istri sangat menyayangi Rumaisha.
Tapi, saya tegur istri. “Lain kali sampaikan kepada … untuk jangan belikan permen dan cokelat.” Istri diam. Saya paham, sebagai ibu, dia ingin anaknya menikmati jajanan itu. Apalagi, jajanan itu dikirim jauh-jauh dari Jawa.
Sebenarnya, ini bukan kejadian yang pertama. Jauh sebelumnya, pernah juga Rumaisha dikirimi banyak permen baik dari keluarga dari Jawa maupun dari neneknya di Camba. Saat itu, saya berhasil membujuk Rumaisha.
Saya sampaikan bahwa permen bisa merusak gigi. Rumaisha patuh. Saya mengambil sebagian besar permen itu dan saya sisakan sedikit untuk dia tetap nikmati.
Dilema
Sebagai seorang manusia biasa, jujur kadang saya dilema dan “sedikit” lelah. Saya sebagai suami dan aba, saya ingin tegas dalam menjaga keluarga. Namun, di lain pihak, saya juga mungkin nampak terlihat seperti “monster” yang selalu melarang anak menikmati hal-hal kecil dalam hidupnya.
Saya sadar. Istri, keluarga istri, dan neneknya sangat menyayangi Rumaisha. Mereka rela mengeluarkan uang untuk membelikan jajanan.
Tapi, sebagai kepala keluarga, saya merasa bertanggung jawab menjadi benteng pelindung keluarga. Meski itu berasal dari hal-hal kecil, seperti menjaga kebiasaan jajan anak.
Komunikasi dan Kolaborasi dalam Keluarga
Ketegangan ini memang tidak bisa diselesaikan dengan cara kaku. Butuh komunikasi yang baik. Harapannya, tulisan ini bisa menjadi media untuk menyampaikan pesan itu.
Sebab, sudah beberapa kali saya jelaskan kepada istri tentang rambu-rambu keluarga kami. Salah satunya adalah soal jajanan. Saya juga sudah memintanya untuk menyampaikan hal ini kepada keluarganya.
Pun kepada Rumaisha. Meski, umurnya baru beranjak 6 tahun, hampir selalu saya sampaikan tentang jajanan sehat dan akibat jika terlalu sering makan jajanan manis. Mulai dari cerita mengenai kakek-kakek yang tidak punya gigi sehingga tidak bisa makan daging dan hanya bisa makan bubur. Akibat gigi si kakek rusak tidak bersisa. Saya juga jelaskan bagaimana gula bisa merusak gigi.
Tujuannya, agar Rumaisha tidak merasa tertekan. Saya ingin dia paham, bukan sekadar dilarang.
Dalam usia pernikahan beberapa tahun ini, saya belajar bahwa peran suami dan aba bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjadi pelindung dan pembimbing bagi keluarga.
Saya rela dicap “keras” atau terlihat “tega” di mata istri atau anak, saat harus berperan sebagai benteng keluarga. Kita tidak bisa selalu mengikuti keinginan anak atau menuruti kelemahan hati kita sendiri. Kadang, ketegasan adalah bentuk kasih sayang yang paling tulus.