Bismillahir rahmanir rahiim…
Ustadz Entertaining
Ustadz memiliki arti sebagai guru atau pendidik. Istilah ustadz biasanya lekat di kehidupan masyarakat sebagai seorang yang alim (red: paham agama Islam) kemudian mampu untuk membawakan ceramah. Bahkan label ustadz juga disematkan bagi seorang laki-laki yang kemudian rajin ke masjid memakai pakaian gamis atau baju kokoh, memakai kopiah, atau memakai celana jingkran. Jika karakteristik luar itu telah dilakukan oleh seorang laki-laki, maka siap-siap untuk dilabeli sebagai ustadz.
Ada sebuah anekdot, gelar yang paling gampang didapatkan di Indonesia yakni gelar ustadz. Kondisi masyarakat yang begitu miris. Sehingga orang yang ingin taat beragama kemudian menjadi setengah hati untuk taat, karena takut dengan pelabelan seperti ini. Sebuah kondisi masyarakat yang telah menganut paham sekularisme.
Dalam Islam, tidak dikenal yang namanya agamawan dan bukan agamawan. Tahu tentang agama bukan monopoli satu orang, karena tahu tentang agama merupakan kewajiban individu. Tahu dasar-dasar agama bukan berstatus fardhu kifayah namun merupakan fardhu ‘ain.
Berangkat dari pemikiran sekularisme inilah sehingga dengan akan sangat mudah seseorang dilabeli sebagai seorang ustadz. Kondisi umum ustadz yang ada di masyarakat pun memperhatinkan.
Memperhatinkan menurut saya dikarenakan posisi dan kondisi ustadz atau juru ceramah berada pada posisi pragmatis. Betul, bahwa disaat menyampaikan ceramah atau nasihat agama harus memperhatikan kondisi audiens. Memperhatikan kebutuhan audiens, namun diperlukan juga batasan-batasan agara setidaknya tidak melanggengkan kondisi yang pragmatis.
Kondisi pragmatis yang saya maksud adalah kondisi dimana ustadz dalam menyampaikan nasihat-nasihatnya lebih mirip sebagai seorang entertainer. Sebagai penghibur (Ustadz Entertaining). Lebih banyak nuansa humor atau menghiburnya dibandingkan bobot pencerahan kepada ummat. Pencerahan dalam hal pemikiran dan perasaan jamaah.
Jamaah sebenarnya lebih membutuhkan pencerahan pemikiran dan perasaan dibandingkan dengan penyampaian pesan agama dengan hanya menghibur belaka kemudian minus pesan dan tuntunan. Jamaah lebih membutuhkan solusi atas permasalahan hidupnya dibandingkan pesan-pesan humor yang sifatnya sesaat. Jamaah lebih membutuhkan motivasi dan dorongan untuk bangkit baik secara individu sampai pada level jamaah (masyarakat, bangsa, ummat) dibandingkan dengan selipan-selipan canda tawa tanpa kesan dan pesan kebenaran.
Secara psikologis, cara penyampaian nasihat agama yang lebih banyak hiburan misalnya dengan humor akan mudah diterima oleh masyarakat. Namun, akan bermasalah jika ini menjadi trend dalam menyampaikan ceramah. Dan sangat disayangkan jika kondisi ini terus berlanjut sehingga seolah-olah ini menjadi jalan baku dalam berceramah.
Kita bisa melihatnya bahwa kondisi ini memang seakan sudah menjadi metode baku. Cara penyampaian ceramah yang penuh humor. Dimana-mana kita bisa menemukan ustadz yang bisa membawakan ceramah yang menghibur. Tak jarang pula, ceramah yang disampaikan mirip dengan cara penyampaian ustadz tertentu yang terkenal dengan ceramah lawaknya.
Terakhir, saya hanya bisa berharap bahwa kondisi ini segera berakhir. Para ustadz hendaknya dalam menyampaikan ceramah hendaknya mampu menyampaikan Islam sebagai solusi kehidupan. Mampu mengerakan mereka untuk berbuat. Karena yang disentuh atau dijawab permasalahan mereka memuskan mereka secara pemikiran dan perasaan. Baca postingan saya sebelumnya: Sampaikan Islam Praktis, Memberi Solusi Permasalahan.
Islam hanya akan tegak ditengah-tengah masyarakat jika masyarakat mampu melihat dan menyadari sehingga mau menjadikan Islam sebagai solusi kehidupan. Islam tidak dikenal hanya sebagai candu, namun menjadi bagian pandangan hidup mereka. Menjadikan Islam sebagai landasan dalam setiap hal; kaidah halal-haram sebagai patokan benda dan perintah-larangan sebagai patokan perbuatan.
Maka, tiada jalan lain bagi para ustadz-ustadz yang ada sekarang mengubah cara penyampaian ceramah atau nasihat-nasihatnya. Dari cara entertaining (sekedar menghibur) menjadi cara yang mampu menggerakkan ummat. Namun, tentu harus didukung dengan elemen lain yakni tata aturan Islam yang menjauhkan dari paham sekuleristik.
Kita rindu sosok ustadz, penceramah yang mampu mengggerakan jamaah. Menggerakkan dalam hal amar ma’ruf nahi mungkar. Menggerakkan masyarakat (ummat) agar mau, mampu, dan bisa untuk saling mengajak kepada kebaikan dan tidak takut dalam mencegah segala keburukan dan kemungkaran (dosa, maksiat). Wallahu ‘alam. []