Suatu Saat Mereka akan Hidup dengan Kepribadian
Bismillahir rahmanir rahiim….!!!
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Jika kita ingin melihat sekitar kita dengan pandangan seksama, maka kita dapat melihat bahwa hidup dan kehidupan kita bergerak ke arah materialisme yang akut. Penilaian seseorang terhadap sesuatu banyak dipelopori dan dilandasi dengan ada tidaknya untungnya buat saya, pragmatisme. Menyatakan bahwa sesuatu itu bermanfaat jika ada keuntungan berupa perolehan manfaat duniawi dan nol keikhlasan.
Tentu hal ini akan sangat terasa jika kita hidup di kota. Dimana, dari pola sikap materialisme ini membuat sekat-sekat antar individu yang luar biasa sehingga menurunkan turunannya, individualisme. Budaya mementingkan diri sendiri dijunjung, padahal dia lupa bahwa dia bisa eksis itu semata karena adanya orang lain. Melupakan bahwa makhluk hidup berada pada lingkaran terikat yang dinamakan simbiosis mutualisme.
Puncak segala puncak penghormatan dinilai dari materi. Engkau berada pada tahta tertinggi jika engkau punya banyak uang. Engkau disebut sukses berdasar seberapa besar raihan harta yang engkau miliki. Engkau kebal hukum, jika engkau punya segalanya. Kecantikan, ketampanan menjadi standar ukur. Alat ukur nomor wahid, satu. Padahal, mereka lupa bahwa materi hanya kulit.
Materi yang kita kejar dengan susah sesungguhnya hanya bentuk luar penunjang sebuah kemuliaan. Darinya dapat berguna, namun bukan prasyarat utama. 
Melihat seseorang jangan buta karena materi. Karena materi itu terbatas. Terbatas waktu dan tempat. Kekayaan itu terbatas, hanya berlaku di dunia. Tahta itu materi. Kecantikan dan ketampanan itu materi yang akan hancur di makan usia.
Sungguh, manusia itu diukur berdasar kepribadian yang ia bawa. Ini adalah alat ukur yang haq. Yang semua insan dapat punya kesempatan yang sama untuk mendapatkannya. Tidak memandang kecantikan fisik, namun juga kesederhanaan fisik pun dapat meraihnya. 
Kepribadianlah yang akan dikenang. Kecantikan dan ketampanan akan berlalu dan lapuk karena ia terbatas waktu dan tempat. Yang mengisi relung hati dan abadi ada laku. Dan laku, tindakan lahir dari pemikiran dan perasaan yang dimiliki insan. Pemikiran dan perasaan yang disatukan inilah yang dimaksud dengan kepribadian.
Jika kita ingin menggali lebih dalam, radikal. Kepribadian apakah yang patut untuk diperjuangkan, dilakukan, diulangi dan diulangi sehingga berinternalisasi dan menjadi bagian hidup kita? Tentu kita akan bertanya. Dan kemana kita akan bertanya.
Bertanya tidak akan membuat terhanyut oleh keadaan. Bertanya akan mengalihkanmu ke area hakikat. Bertanyalah…! Namun, jangan lupa sertakan asal kejadianmu, untuk apa engkau di dunia ini, dan akan kemana engkau setelah masa dunia ini.
Ketiganya adalah simpul besar. Simpul besar yang harus disingkap kucinya. Agar terbuka pintu hakikat. Namun, pintu hakikat hanya menggambarkan apa dan siapa dia, namun jangan pernah bertanya  bagaimana dia. Karena sungguh akal mu akan kepayahan.
Suatu saat….. Kita akan hidup dengan Kepribadian
Boleh jadi hari ini, dunia masih berpihak kepada kita. Dunia masih mendukung eksistensi kita tanpa kita merasa atau berniat berjuang. Berjuang keluar dari platform yang kita miliki. Namun, boleh jadi masa itu akan sangat dekat.
Masa dimana yang bernilai hanyalah hasil pemikiran dan laku kita. 
Wahai jiwa, kembalilah. Tundukkan sedikit saja nafsumu. Arahkan kebutuhan dan nalurimu berdasar hukum Allah, aturan Allah SWT. Karena Allah SWT tidak menilai seberapa besar yang engkau lakukan, namun melihat bagaimana dirimu dalam mengerjakannya.
Bagaimana dirimu mengerjakannya adalah hasil tambah antara perasaan dan pemikiranmu selama ini. Keduanya adalah landasanmu berbuat. Karena Tuhan memberikanmu akal untuk memutuskan. Hasil keputusanmu tentu tak akan lari dari kedua hal ini.
Wahai engkau pemuja materi. Kecantikan istrimu atau wanita itu bias. Mengecoh hari ini, namun nyata di saat engkau melewati hidup bersamanya. Hidupmu bukan sebatas materi. Penilaianmu akan lelah jika hanya bersanding pada materi. Sungguh, yang mendamaikanmu adalah bagaimana ia berpikir dan merasa.
Ku masih berharap, jiwa ini segera tersadar. Bukan semata pikiran yang tersentuh namun kecendrungan naluriah pun tunduk padanya setelah akal menyingkap kebenaran.