Bismillahir rahmanir rahiim…
Bagi saya, kata ngaji itu identik dengan kata mengaji Al Qur’an ala anak kampung. Ala anak kampung itu. Ya, belajar membaca Al Quran mulai dari mengenal huruf hijaiyyah, kalau sempat pakai metode Iqra’, kemudian ke taraf Qur’an kecil kemudian melolosi Qur’an besar. 
Sebagai Seorang Muslim, Mengapa Saya Harus Ngaji?
Mengapa Saya Harus Ngaji/ceramahideologis.files.wordpress.com
Saya menggunakan kalimat sempat pakai metode Iqra’ karena bagi saya yang lahir di kampung Bugis, cara belajar ngaji Qur’annya itu beda dengan cara anak ngaji di TK/TPA sekarang. Sempat pakai metode Iqra’ karena waktu itu diajari oleh mahasiswa KKN dari IAIN Makassar, sekarang berubah menjadi UIN Makassar. Sempat, karena waktu ngajinya juga cuman sebentar. Seumuran dengan waktu KKN para mahasiswa, dikurangi lagi dengan jatah kegiatan lain mereka, proker dan pengabdian masyarakat.
Istilah Qur’an kecil digunakan untuk juz Amma. Bagi yang baru ngaji, melolosi qur’an kecil adalah pra syarat menuju Qur’an besar atau Al Qur’an full 30 juz, bukan hanya juz 30. Bedakan?
Melolosi qur’an kecil itu punya banyak cerita. Soalnya, di awal surah yakni Surat An-Nas sampai beberapa surah selanjutnya terasa aman dan tentram nan mulus. Soalnya, surah-surah ini telah dipelajari dan dihafalkan di waktu TK. Jadinya, kita berasa hebat melewati surah-surah ini, karena dihafal. Tanpa tahu, mana kalimat yang kami ucapkan.
Perjuangan sebenarnya baru muncul setelah melewati surah-surah yang kami hafal di bangku TK. Kami mulai asing dengan kalimat, ayat, dan surah selanjutnya. Tidak ada lagi sisa stock hafalan dalam kepala kami. Habis dan tidak ada yang bisa diandalkan lagi. Jalan satu-satunya untuk menghabiskan satu surah adalah dengan cara mengeja huruf demi menjalin satu kata. Satu kata demi satu kata sehingga habis satu ayat. Ayat demi ayat dijalin bersama hingga menjadi satu surah pendek sekelas Al-Fiil. Dan kami, membutuhkan waktu dua jam untuk sekedar membacanya sampai habis, dengan metode ejaan kampung.
Setelah berdarah-darah dengan Qur’an kecil, saatnya beralih ke Qur’an besar. Kalau Qur’an kecil cara ngajinya dibaca per surah demi surah. Nah ini yang masalah di Qur’an besar. Di awal surah, kami harus bertatapan langsung dengan tujuh surah terpanjang dalam Qur’an, Al Baqarah dan teman-temannya. Bagaimana cara kami menghabiskan satu surah ini yang menjuntai menjadi 3 juz lebih. Masya Allah. Seketika ilmu qur’an kecil keok. Belum ada apa-apanya, yang kami dapatkan masih sebatas ilmu ejaan tradisionil.
Saya ngaji Qur’an kurang lebih satu tahun, kalau tidak salah sebelas bulan untuk menamati Qur’an besar. Fase yang harus kami lalui sebagai anak kampung. Tapi saya bangga dengan ini. Setelah tamat Qur’an besar, ini berarti saatnya party. Syukuran karena telah menamatkan membaca Qur’an besar. Kalau penyebutan di kampung saya, Panre Temme’. Acara makan-makan, potong ayam kampung plus membaca beberapa ayat Al Quran (saya tidak tahu apakah ini semacam mengetes ulang) kemudian pemberian beberapa sarung kepada guru ngaji. Inilah hari pembalasan bagi guru ngaji kami.
Ngaji di Hizbut Tahrir
Kata ngaji, ternyata bukan sebatas daun kelor. Mengerti. Ngaji atau mengaji berasal dari kata kaji. Kaji, tidak sebetas pada membaca Al Quran sampai rampung, ala anak kampung. Mengkaji bisa berarti memikirkan ayat-ayat, alamat, tanda-tanda kekuasaan Allah SWT di muka bumi ini. Kaji bisa berarti memikirkan isi maksud dari tafsir Al Quran. Mengkaji atau mengaji, bisa berarti men-tadabburi Al Qur’an.
Saat ini saya mengaji di Hizbut Tahrir. Mengkaji lebih dalam tentang Islam. Inilah yang saya maksud, sebagai seorang muslim mengapa saya harus mengaji?
Pertama, Islam itu Luas, Kenali dengan Ngaji
Dinul Islam adalah pandangan hidup. Cara kita memandang kehidupan diajarkan Islam. Ia luas, menyentuh segala aspek kehidupan. Bukan digunakan untuk orang mati saja, namun juga dipergunakan untuk orang yang masih hidup. Ia bukan semata shalat dan ibadah mahda saja, namun ia mencakup seluruh muamalah yang dilakukan ummat manusia. Ia semata bukan hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri, dan hubungan dengan Tuhannya, namun ia juga mengatur hubungan dengan sesama manusia. Bukan semata akhlak tetapi juga berdasarkan peraturan, sistem.
Luasnya Islam itu bukan hanya dikenal dan diketahui dengan ngaji sebelas bulan itu. Namun, ia harus menggunakan aktivitas tambahan. 
Kedua, Memperluas Cakrawala
Ilmu itu sifatnya memperluas cakrawala. Cara kita memandang sesuatu. Lebih luas dan lebih banyak sudut yang bisa kita pertimbangkan. Bagai orang yang mengamati seekor gajah. Cakrawala yang luas membuatnya bisa memandang gajah dari bagian kiri, kanan, depan belakang atau bahkan dari atas dan bawah. Sehingga betul, ia memiliki pandangan yang dalam tentang gajah tersebut.
Terkhusus di Hizbut Tahrir, level berpikir dikategorisasi menjadi tiga yakni berpikir dangkal, berpikir mendalam dan berpikir cemerlang (Al Fikru Al Mustanir). Berpikir cemerlang, membuatmu bisa menembus jauh dari cakrawala yang ada. Berpikir mendalam secara ringkas, membuatmu membuat pertimbangan pemikiran sebelum dan sesudah kehidupan dan hubungan antara kehidupan sebelum dan sesudah kehidupan ini. Kompleks dan tuntas.
Ketiga, Menjadi Kontributif dengan Islam
Pemuda, yang dibutuhkan dari mereka adalah kontribusi. Kontribus berarti seberapa besar dengan kehadiran kita memberikan pengaruh manfaat bagi sekeliling kita. Jangan sampai kita seperti ini, kehadiran kita tidak pernah membuat ganjil sesuatu yang genap itu dan tidak pernah bisa menggenapkan sesuatu yang ganjil itu. Tidak ada kejadian.
Saya telah membuat tulisan tentang menjadi pribadi kontributif. Silahkan dibaca jika berkenan.
Mengaji membuatmu mempunyai fragmen berpikir Islam. Tentu, disaat ingin berkontribusi maka kontribusi yang engkau berikan tidak akan jauh dari fragmen berpikir itu. Semangati diri dengan hadits berikut ini, Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak manfaat terhadap orang lain.
Keempat, Dunia Butuh Solusi
Saudara, coba kita keluar kamar. Keluar lebih jauh melihat realitas yang ada. Coba melihat jauh ke dalam pelosok ibu kota, di dalam keramaian jalan zebra cross yang dilengkapi lampu hijau-kuning merah dan beberapa pertingaan jalan besar. Maka, engkau akan menemukan beberapa dan banyak sosok manusia yang ‘kurang beruntung’ karena termiskinkan. Mereka menengadah, mengharap receh demi menyambung hidup mereka sehari. It’s reality.
Inilah realitas kehidupan kita saat ini. Permasalahan lain, korupsi yang semakin menjangkit dan dianggap bukan lagi penyakit. Mereka bersuka ria dengan bobrok ini. Kekayaan alam kita yang melimpah ruah, tiada terkira dan terhitung jumlahnya harus kita tonton dengan sukarela tanpa ada perlawanan agar tidak dirampas, karena pikiran kita telah lama lemah karena akibat doktrin penjajahan non fisik.
Kehidupan kita butuh solusi. Dunia ini butuh solusi atas permasalahannya. Ngaji membuatmu melek atas semua ini. Ngaji membuatmu sadar atas segala permasalahan mu. Ngaji sehari memang tidak bisa menuntaskan semua masalah dari akar sampai daun. Tapi, ngaji sehari membuatmu menemukan setengah dari solusi. Menemukan masalah adalah sebagian dari solusi.
Kelima, Menuntut Ilmu adalah Kewajiban
Kebahagiaan dunia bisa diraih dengan ilmu. Kebahagiaan akhirat pun syaratnya dengan ilmu. Kebahagiaan kedua-duanya, hany dengan ilmu. Ilmu yang dipelajari yang mengantarkan kepada kebahagian sudah pasti bukan sembarang ilmu.
Ilmu yang membuatmu bahagaia itu mengajarkan cara bersikap yang benar. Entah dalam keadaan susah maupun dalam keadaan senang. Berikut ciri ilmu yang membahagiakan itu, Sungguh luar biasa urusan seorang muslim itu. Jikalau ia terkena musibah maka ia akan bersabar dengan musibah itu. Sedang jika ia mendapat kenikmatan maka ia akan bersyukur. Ini, ilmu yang membahagiakan. Tidak membuatmu stress dikala susah, namun tidak membuatmu kalap dikala senang.
Ngaji, membuatmu lebih dekat dengan kebahagiaan itu. Senangnya duduk melingkar dalam suasana, tarbiyah ataupun halaqah itu akan membuat hatimu tentram. Tersebab, malaikat Allah melingkupi majelis yang menyebut Allah dan RasulNya, mengingatkan saling beribadah kepada Allah.
Menuntut ilmu adalah kewajiban, mulai dari buaian sampai liang lahat. Artinya non stop, long life education.
Keenam, Dakwah ternyata Kewajiban.
Dakwah itu adalah menyeru manusia kepada kebaikan (ma’ruf) kemudian mencegah (nahi) kepada kemungkaran. Sounds simple. Bahkan, dikatakan, sampaikanlah dariku (ajaran Rasulullah SAW, risalah Islam) walaupun itu cuman satu ayat. Hanya dibutuhkan satu ayat untuk berdakwah.
Dakwah adalah kewajiban individu juga kewajiban kelompok. Dengan anda mengaji, maka anda punya modal awal walau satu ayat untuk menyampaikan kepada orang yang belum tahu atau orang yang sudah tahu namun membutuhkan nasihat atau peringatan. Lihat deh tafsir surah Al-Asr. Orang dikatakan tidak merugi, jika ia beriman, kemudian beramal shalih dan saling nasihat menasihati dalam kebaikan dan menepati kesabaran. Jadi, kadang kita harus menasihati dan kadang pula kita harus dinasihati.
Ketujuh, Jangkaulah Surga yang seluas langit dan bumi
Cita-cita itu bukan semata bintang-bintang dunia yang terjauh. Seyogyanya kita juga punya hasrat besar untuk berada dalam surga tertinggi, surga Firdaus.
Dunia ini bukan semata panggung sandiwara. Memang kita harus memiliki peran dan menjadi aktor atau aktris terbaik yang pernah ada. Namun, perlu ada tambahan pandang baru tentang dunia, hidup di dunia ini dalam beramal haruslha seperti perlombaan. Perlombaan dalam kebaikan, fastabiqul khairat.
Ngaji, membuatmu langkahmu untuk ber-fastabiqul khairat semakin bagus. Karena, ia menolong mu untuk menentukan mana yang boleh mana yang tidak boleh, mana halal mana haram. Beramal tidak asal-asalan. Namun tetap mengikut dan mencontoh (i’ttiba).
Mengaji membuatmu ingin menjangkau surga seluas langit dan bumi, karena suatu saat engkau akan bertemu dengan ayat berikut dalam Al Qur’an, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (TQS. Ali Imran: 133).
Ayat ini akan pertama engkau temui jika telah mengaji pada kitab Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah, pada bab pertama, Bersegera Melaksanakan Syariat.
***
Inilah, beberapa alasan yang saya utarakan mengapa saya, kami, dan kalian mesti ngaji. Semoga artikelnya bermanfaat. Wallahu ‘alam. [Indrawirawan]