Bismillahir rahmanir rahiim…
Psikologi Dunia Maya

Di awal tulisan saya berharap tulisan ini ke depannya tidak akan berat di cerna. Selama ini saya berkutat dengan bacaan-bacaan tentang pemikiran yang mengharuskan pemikiran kita berkembang dan mengempis sekaligus dalam beberapa waktu atau kejadian. Semoga mulai tidak rumit dicerna.
Ini prolog sebelum menulis tema, judul di atas. Tulisan atau ide-ide yang sifatnya ilmiah membuat kerja otak kita menganalisis. Bagai sebuah mikroskop yang titik fokusnya diarahkan pada obyek yang sangat kecil atau bagai sebuah lup, kaca pembesar yang sedang kerepotan mengumpulkan cahaya untuk membakar kertas tipis. Karakternya membuat pikiran kita harus fokus, sehingga harus mengerucut.
Beda di saat kita berimajinasi. Berimajinasi membuat pikiran kita lebih mengembang, mengembung bagai balon zappelin. Menjalin dan merajut berbagai koneksi-koneksi informasi sehingga terlihat gambaran besarnya. Membuat sesuatu lebih mudah karena melihat persamaan tiap indikasi atau gejala.
Hubungannya dengan psikologi dunia maya, bisa saja berkorelasi. Membahas tentang psikologi dunia maya mengingatkan ku akan sebuah atau buah buku yang pernah saya baca waktu masih duduk di bangku SMP dan SMA. Kalau tidak salah, buku Quantum Learning dan Accelerated Learning. Kedua buku ini cukup membahas tentang adanya luapan informasi yang akan diterima oleh manusia di masa yang akan datang.
Kalau kejayaan manusia beberapa dekade lalu dikarenakan kemampuan mereka menguasai teknologi, maka abad atau realitas hari ini yang harus kita cerna adalah kejayaan ditentukan oleh kemampuan untuk menguasai informasi. Ya, betul. Kekuatan manusia di ukur dengan kemampuan menguasai dan mengendalikan informasi.
Bagaimana kaitannya dengan psikologi dunia maya. Inilah yang akan di bahas secara detil. Dan semoga itu tidak membuat kalian yang berimaji dengan tulisan ini tidak merasa muak dan mual. Soalnya seperti yang saya katakan dari prolog saya, bahwa yang detil-detil itu membuat pikiran kita mengerucut.
Kebangjiran Informasi Sampah
Di dunia maya segala macam informasi di suntikkan, disebar, dan ditebar oleh mereka yang berkutat di dunia maya. Paling ramai, paling besar kicauannya, dan paling tinggi ratingnya curhatnya tentu dunia maya sosial media. Facebook, twitter, dan semoga tulisan yang saya tulis ini di blog ini bukan dikategorikan curhat. Hehehehe…
Di dunia sosial media, segala informasi itu kemudian disebar. Dimana-mana, hingga seluruh dunia bisa melihat atau mengetahuinya. Bukan hanya tulisan seperti ini yang nampak tanpa punya ikatan emosi. Dan lebih tinggi lagi adalah gambar, audio, dan video. Semuanya disebar dan diupload.
Manusia yang tak mampu menyaring dan memilah pilih mana informasi yang bisa dipikirkan dan mana informasi yang hanya sebatas curhatan atau sebatas membicarakan event atau kejadian pasti akan membuat pikirannya overload, kebanjiran informasi. Coba bayangkan, manusia sekarang sebenarnya sudah keranjingan untuk membaca namun hanya sebatas membaca status-status yang belum tentu ada sesuatu yang bisa memberikan pencerahan pemikiran bagi pemikirannya.
Ada quote yang ingin saya sampaikan yang bisa jadi mewakili dan menguatkan tulisan ini. Quote itu seperti ini “Pembicaraan diantara manusia itu terbagi menjadi 3; permbicaraan pertama hanya membicarakan sesama mereka (gosip), pembicaraan kedua hanya membicarakan event, kegiatan, dan pembicaraan ketiga adalah mereka yang membicarakan tentang ide. Pembicaraan ketiga inilah yang luar biasa”.

Di dunia maya, sering sekali memang kita membaca. Bahkan bisa dikatakan keranjingan untuk membaca. Namun, tunggu dulu. Kita harus membedah, apa yang dibaca. Jika hanya sekedar membaca status yang tidak mutu, alias hanya membaca kategorisasi pertama dari pembicaraan yakni hanya membicarakan sesama manusia, hanya curhat tidak mutu di dunia maya. Maka dapat dipastikan apa yang didapatkan dari hasil pembacaan kita.

Sebenarnya, saya mau mengaku. Judul yang saya tulis di atas mungkin terlalu berat untuk saya bahas. Psikologi dunia maya. Cuman saya ambil judul tersebut karena terpengaruh strategi marketing pemasaran. Memboomingkan judul.

Teralienasi
Ada satu kisah yang ingin saya sampaikan terkait sub topik ini. Teralienasi. Teralienasi bisa berarti terasingkan. Di dunia sosial media, kita bisa saling berinteraksi namun tidak saling bertemu. Ini menjadi kekuatan tapi bisa menjadi celah keluarnya kekurangan di dalamnya.

Suatu ketika seorang remaja putri dengan santainya melakukan chatting dengan omnya. Sebelumnya mereka tidak pernah ketemu, karena omnya berada di luar kota yang lain untuk bekerja. Segala keseharian remaja putri ini ia share di dunia maya. Ia pun aktif untuk mengomentari dan memberi balasan dari setiap komentar teman-temannya di sosial media. Tak terkecuali dari omnya. Karena di sosial media, remaja ini kelihatan sangat terbuka, maka muncullah persepsi dari omnya kalau dia punya kemanakan yang memiliki sifat terbuka.

Suatu ketika, ada kesempatan omnya untuk bersilaturahim dengan kemanakannya. Ketika bertemu, ternyata omnya menemukan kejanggalan. Persepsi tentang keponakannya berubah 180 derajat. Ternyata, kemanakannya itu memiliki sifat yang tertutup, susah menyambung pembicaraan di saat bercerita, tidak mengembangkan pembicaraannya. Bahkan ada kesan ia takut untuk bertemu apalagi bertatap muka dengan lawan bicaranya. Karakternya tidak selincah dan seperinga yang ia tampakkan di dunia maya.

Manusia dalam interaksinya, harus melihat dan merasa sendiri berbagai ekspresi muka dari lawan bicaranya. Di sosial media, walaupun terjalin komunikasi yang intens namun kita tidak akan pernah bisa melihat bagaimana ekspresi  wajah seseorang di saat ia mengungkapkan sebuah gagasan atau ide. Ide itu beku, sebeku tulisan yang ia tuliskan. Emoticon tidak bisa menggambarkan secara umum, karena tiap diantara kita akan berbeda cara senyumnya dan makna apa yang ingin disampaikan lewat senyum itu.

Psikologi dunia maya….
Tidak dilarang bersosial media, namun tetap keluar dari kamar untuk mencerna sendiri realitas, mengamati gejala, dan rasakan sendiri bagaimana luasnya pemaknaan yang terpancar dari tiap mimik manusia.