Bismillahir rahmanir rahiim…
Indrawirawan – Ringkasan pribadi dari buku (kitab) At Takatul Hizbi, Pembentukan Partai Politik oleh Syaikh Taqiyuddin An Nabhani. 
Usaha untuk membangkitkan umat Islam dari keterpurukan telah banyak dirintis oleh berbagai gerakan Islam, baik gerakan yang basis Islam maupun gerakan yang tidak berbasis Islam (landasan nasionalisme-patriotisme). Namun, muncul dan berkembangnya gerakan-gerakan tersebut tidak bisa mengarahkan umat kepada hakikat kebangkitan yang sesungguhnya.
Pembentukan Partai Politik (At Takatul Hizby) - Ringkasan Pribadi

Gerakan-gerakan tersebut gagal dalam mengantar umat ke dalam arah kebangkitan di karenakan adanya kelemahan dalam aspek thariqah (metode) dan fikrah gerakan. Banyak diantara gerakan-gerakan Islam yang muncul tidak memiliki kedua hal ini. Banyak diantara mereka mengambil nasionalisme-patriotisme sebagai basis gerakan sehingga ini tidak bisa menjadi bahan perekat bagi kebangkitan umat. Sungguh pun demikina gerakan-gerakan tersebut juga banyak dimotori atau disetting oleh orang-orang Barat.
Keberhasilan penjajah Barat untuk mereduksi atau menghancurkan, mengaburkan pandangan gerakan-gerakan Islam yang muncul lebih karena penjajah Barat telah melakukan langkah sistematis dalam melakukannya. Diambilnya orang-orang penting diantara kalangan kita kemudian dari mereka didik tsaqafah penjajah Barat sehingga tiba saat mereka tampil di tengah-tengah masyarakat, bukan ide-ide Islam yang mereka usung namun tsaqafah Barat yang menjadi pusat atau sumbu putar mereka. Akibatnya, dari pemikiran yang mereka yang telah tercuci maka tiada lain kecuali mereka melahirkan sesuatu yang bertentangan dengan kebangkitan, kelompok, serta-serta ide-ide kebangkitan telah jauh dari hakikat sebenarnya.
Lain dari pada itu, penjajah Barat juga telah melakukan tindakan sistematis seperti merubah tsaqafah pendidikan, politik, budaya, serta tatanan pergaulan jauh dari Islam sehingga yang tinggal hanyalah kehidupan yang amat jauh dari realitas sebuah perdaban Islam.
Di dalam masyarakat juga muncul gerakan/kelompok yang bergerak di bidang sosial-ekonomi. Kelompok ini berkutat pada aktivitas sosial-ekonomi seperti membangun rumah sakit, sekolah, universitas, panti asuhan, dan yang semisal. Solusi yang mereka tawarkan adalah solusi parsial sehingga tidak mampu membangkitkan umat. Terdapat pula gerakan yang fokus aktivitasnya pada perubahan, perbaikan akhlak. Kesahlan kelompok terdapat pada ketidakmampuan mereka memahami perbedaan antara individu dan masyarakat yang mereka samakan. Masyarakat hanya dinilai sebagai kumpulan individu. Obat yang mereka berikan adalah obat yang hanya cocok untuk mengobati individu yakni perbaikan akhlak. Pedahal terdapat perbedaan antara individu dengan masyarakat. Masyarakat adalah kumpulan individu yang di dalamnya hidup perasaan, pemikiran, dan aturan yang sama.
Kelompok yang benar adalah kelompok yang berdasarkan pada fikrah dan thariqah (Ideologi) Islam. Orang yang mengembangnya haruslah memiliki tsaqafah Islam, perasaan Islam, serta senantiasa membersihkan diri dari segala maksiat-dosa. Pada mulanya terbentuk adalah kutlah hizbiyah yang dimotori orang-orang yang sepahamdengan harakah tersebut. Setelah membesar, akhirnya mereka menjadi partai ideologis.
Proses terbentuknya partai ideologis melalui serangkai tahap. Pada awal terbentuknya, mereka akan menjadi kelompok yang terasing dari masyarakat karena perbedaan tsaqafah, pemikiran mereka dengan masyarakat pada umumnya. Pimpinan partai harus mengalirkan panas tsaqafah kepada para anggotanya sehingga anggota partai dapat bergerak sinergis. Pergerakan mereka bagai sebuah rangkaian mesin, busi dalam sebuah motor.
Adapun marhalah yang dilalui oleh sebuah partai yaitu, tahap tasqif atau pembinaan. Pada tahap ini, partai tidak boleh diserupakan dengan sekolah. Karena partai harus mencetak kader yang akan mengubah masyarakat. Mereka harus menjadi poros dalam masyarakat, mengubah individu-individu jamaah. Keberhasilan proses tasqif, akan mengantarkan partai pada tahap kedua yakni, interaksi dengan umat, perjuangan politik. Pada tahap ini, partai harus menerima kenyataan bahwa tidak semua masyarakat akan setuju dengan ide partai. Di dalam masyarakat nantinya akan terbagi golongan yang sangat menentang ide, pemikiran yang di bawa oleh partai. Partai harus senantiasa harus berada pada jalur yang lurus, memahami masyarakat namun tidak boleh larut. Menjelaskan fikrah partai kepada masyarakat sembari membongkar seluruh makar-makar kafir penjajah yang disusupkan di dalam tubuh umat. Dalam tahap interksi ini, partai harus berhati-hati pada bahaya kelas. Partai tidak boleh merasa di atas masyarakat, sehingga masyarakat merasa susah berinteraksi dengan partai karena adanya kelas-kelas sosial yang terbentuk. Partai harus senantiasa bergerak seperti pelayan sehingga bahaya kelas ini dapat terhindarkan. Kemudian langkah yang terakhir, adalah tahapan pengambil alihan kekuasaan. Pengambil alihan kekuasaan dilakukan dengan aktivitas thalabul nushra. Setelah proses thalabul nushra tercapai, dan pengambil alihan kekuasaan telah terjadi, maka partai harus senantiasa hidup untuk mengawasi pemerintahan yang berlangsung, walaupun sebagian anggota partai menjabat sebagai aparatur pemerintah. Namun keberadaan partai mutlak harus tetap ada, karena partailah yang akan mengawasi pemerintahan agar tetap berjalan pada rel yang telah ditetapkan, Al Quran dan As Sunnah.