Bismillahir rahmanir rahiim…
Muhasabah atas Kekurangan Makhluk
Indrawirawan – Saya masih sangat takjub dengan apa-apa yang Allah SWT telah tetapkan terhadap makhlukNya dan kehidupan yang ada di dunia ini. Ketakjuban saya terutama di saat saya menemukan bagaimana Allah SWT mengatur dunia ini dengan begitu indah, tanpa celah, tanpa cacat. Dan jikalau pun ada cacat, maka itu hanya ditemukan oleh mereka yang berputus asa dari rahmat Allah SWT. Bisa pula disebabkan karena hatinya, akalnya telah tertutupi karena tidak mampu menangkap tanda-tanda kebesaran Allah SWT di langit dan di bumi.
Allah SWT menciptakan makhluknya pada hakikatnya adalah sesuatu yang terbatas. Makhluk senantiasa akan berada pada kekurangan, saling membutuhkan satu sama lain, bergantung kepada yang lain darinya. Dan adapun kelebihannya, karena mampu membantu atau melengkapi kekurangan yang dimiliki oleh makhluk lainnya.
Kelebihannya tidak boleh dijadikan sebagai landasan kesombongan. Kalau pun dia lebih, dia tidak lebih dikarenakan makhluk lain tidak memiliki hal demikian. Sehingga ia harus bersyukur karena kelebihannya bukanlah sesuatu yang kekal apalagi mampu untuk berdiri sendiri tanpa bantuan atau uluran tangan dari yang lain.
Manusia pada hakikatnya sama dengan makhluk lain yang ada di dunia ini. Terbatas. Keterbatasannya membuat ia pun dipenuhi dengan kelemahan, celah dan cacat. Manusia tidak akan mampu melaksanakan sesuatu yang sempurna, dikarenakan sesuatu yang lemah tidak akan mungkin menghasilkan atau mendatangkan sebuah kesempurnaan. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT, Sang Khaliq.
Oleh karena keterbatasannya, manusia mutlak membutuhkan sesuatu yang lain. Baik itu benda, alat, manusia lain, makhluk lain, suasana atau kondisi lain yang dapat mengisi kekosongan atau kekurangan yang ada dalam dirinya. Manusia membutuhkan makanan, minuman, istirahat, mengeluarkan zat sisa untuk memuaskan seasuatu yang kurang dari dirinya atau mengeluarkan sesuatu yang buruk dari dalam dirinya.
Begitu pun di saat kita melihat atau menemukan pola sikap, pengetahuan, atau keputusan yang dilakukan oleh manusia. Pasti akan sangat beragam satu sama lain. Hal ini dikarenakan perbedaan kondisi psikis, pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki oleh manusia.
Letak perbedaan pengambilan keputusan atau kondisi psikologi tiap manusia tidak lebih dikarenakan perbedaan manusia dalam menghukumi atau mencerap fakta yang ada. Perbedaan itu pula terjadi saat manusia sudah terbiasa dengan fakta yang sama dengan yang hanya sekali atau belum pernah mengalami fakta yang sama. Contoh misalnya, manusia yang senantiasa melihat atau memakai, mengkonsumsi anggur akan sangat berbeda penampakan perlakuannya, sikapnya dibandingkan manusia yang dalam kehidupannya hanya menemukan jeruk sebagai makanan pencuci mulutnya. Begitu pun dengan kondisi-kondisi lain. Manusia yang sudah terbiasa mencerap fakta tentang bau sampah akan memiliki perlakuan yang berbeda dengan manusia yang dalam kehidupannya senantiasa berada dalam lingkungan yang bersih.
Sehingga sebagai seorang manusia yang Allah SWT telah memberikan kelebihan yang tidak diberikan kepada makhluk lain yakni diberikan akal untuk memahami, maka manusia harus menemukan rahasia-rahasia kehidupan ini. Manusia tidak boleh memaksakan kehendaknya dalam perkara mubah kepada sesama manusia. Ia harus belajar berlemah lembut atas segala kekurangan yang dimiliki oleh orang lain. Karena di saat ia merasa telah hebat atau meremehkan orang lain maka ia telah sombong. Dan manusia tidak boleh atau tidak pantas secara logika, nalar untuk sombong karena ia lemah, tidak sempurna. Yang patut sombong atau berada pada posisi itu adalah Allah SWT pemilik segala kesempurnaan. Subhanallah. []