Bismillahir rahmanir rahiim…

Merekasaya Kegelisahan Membangun Pemberontakan

Kegelisahan, kecemasan, kegalauan ternyata satu paket dengan potensi naluriah yang ada dalam diri manusia. Kegelisahan-kegelisahan yang dialami akan bermuara ke dalam naluriah ini. Secara umum, ada tiga macam naluri dalam diri manusia. Pertama, naluri mempertahankan diri, kedua adalah naluri melanjutkan keturunan, dan yang ketiga adalah naluri mensucikan atau menuhankan sesuatu (tadayyun).

Ketiga jenis naluri inilah yang bertanggung jawab dalam membentuk dan menguatkan sebuah kegelisahan dalam diri. Walaupun, tidak bisa juga diabaikan bagaimana peran akal dalam membentuk kegelisahan, kemarahan karena tidak sesuainya fakta dengan idealisme yang benar.

Ketiga naluri ini satu paket dengan penciptaan manusia. Bukan untuk disesali, apalagi berusaha untuk menghilangkannya. Namun, yang benar adalah mengarahkan naluri tersebut agar senantiasa terikat dengan ketentuan dan aturan dari Allah SWT sebagai pembuat hukum (syara’).

Merekayasa Kegelisahan ke dalam Ketaatan

Kenampakan dan penampakan naluri ini dalam diri manusia berbeda satu sama lain. Maksudnya, dengan kegelisahan naluri yang sama, maka proses menfaktai atau merealitas akan berbeda tiap manusia. Perbedaan ini dikarenakan perbedaan informasi awal ataupun perbedaan psikologi tiap manusia.

Tiap manusia dalam rentan kehidupannya pasti pernah merasakan ada sesuatu yang berkecamuk dalam dirinya. Kecamuk ini muncul karena perbedaan fakta atau realitas yang terjadi dengan harapannya. Akal menghukumi suatu fakta tertentu bahwa ini tidak sesuai dengan harapan, maka muncul campur tangan naluriah untuk memberikan nuansa sehingga muncul kecamuk.

Tiap manusia yang menjalani kehidupan ini pasti akan menemukan masalah. Terdapat banyak masalah, varian hingga bagaimana bentuknya. Namun, jika kita ingin mempersempitnya dan mengkategorisasi berdasarkan banyak sedikitnya yang merasakan masalah, maka masalah akan terbagi dua. Kedua masalah tersebut adalah masalah individu dan masalah orang banyak (baca: ummat manusia).

Jika tiap diri kita hanya sibuk dalam menjalani hidup kemudian menyelesaikan hanya masalah dan persoalan pribadi maka hidup kita tidak akan jauh dari sifat individualis. Hanya mementingkan diri sendiri, mementingkan eksistensi diri sendiri. Orang yang seperti ini, oleh Rasulullah Muhammad SAW dikatakan tidak lebih daripada apa yang keluar dari perutnya.

Masalah yang menimpa ummat manusia hendaknya juga menjadi persoalan yang menjadi konsen tiap individu. Mencari solusi atas permasalahan ummat manusia karena hidup itu tidak sesempit daun kelor dan daun telinga.

Boleh jadi, akan timbul pertanyaan, apakah dengan mencari solusi atas permasalahan ummat manusia berarti kita telah terlepas dari permasalahan individu atau permasalahan pribadi yang menimpa kita? Tentu jawabnya tidak. Permasalahan pribadi akan terus melekat, tidak akan selesai dan permasalahan ummat pun perlu dicarikan solusi agar permasalahan itu tidak membesar hingga merangsek masuk mennjadi penyebab permasalahan individu tiap diri manusia.

Jika kita mau menarik skala prioritas, maka tentu permasalahan sosial atau ummat menjadi sangat urgen untuk segera diselesaikan. Persoalan ummat hari ini menjadi sangat besar dan makin membesar jikalau kita tidak bersatu padu apalagi berusaha memikirkan solusi sembari melapangkan jiwa untuk menambah beban masalah yang ingin kita selesaikan. Masalah ummat yang kompleks.

Oleh karena itu, merekayasa kegelisahan-kegelisahan individu atau pribadi mutlak dilakukan. Mengambil tali kekang kegelisahan dan mengaturnya sekehendak kita adalah keharusan bagi mereka yang ingin berperan dan berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan dan permasalahan ummat manusia.
Kegelisahan sosial dalam diri pun seharusnya direkayasa sedemikian rupa agar semakin membesar. Membesar dan membesar sehingga muncul semangat untuk menyelesaikan dan menuntaskan permasalahan sosial atau ummat. Cara untuk memperbesar kegelisahan dan menjadikannya sebagai bentuk kemarahan terhadap realitas yang ada adalah dengan memperbanyak infiormasi tentang fakta kerusakan yang ada. Kegelisahan bisa direkayasa dengan banyaknya pencerapan fakta kerusakan yang ada. Fakta kerusakan yang ada tentu tidak sesuai dengan harapan nalar dan logis manusia. Mari…merekayasa kegelisahan, membangun pemberontakan.