Bismillahir rahmanir rahiim…
Indrawirawan– Alkisah. Seorang anak SD kelas 4 sedang berkutat di mengerjakan PR di sebuah meja makan rumahnya. Cahaya yang meneranginya berasal dari pelita. Pelita menjadi pilihan yang tak perlu dipilih karena pelitalah satu-satunya sumber pendar cahaya yang mampu menerangi.  Penyebabnya tiada lain, listrik belum masuk di desanya. Si anak dengan penuh semangat mengerjakan PR yang terbilang rumit untuk anak seusianya. Pelajaran menggambarlah yang membuat otaknya berputar mencari inspirasi.
Membentuk Pemikiran pada Anak, Teknik Gabung Kurang

Sejurus dua langkah anak tersebut bersungguh-sungguh, panorama apa yang hendak ia torehkan. Bentuk apa yang pas untuk dia gambar. Rupa apa yang memukau orang lain yang hendak ia lukis. Otaknya terus berpikir. Mencoba memakai potensi besar yang Tuhan berikan padanya.
Ia kemudian mencari gambar-gambar yang sekira bisa membuat daya khayalnya meledak. Mencari kepingan-kepingan warna guna membuat rupa, bentuk, dan panorama yang baru. Akhirnya ia pun mendapat sepercik inspirasi dari gambar-gambar yang dia lihat.
Ia memadukan gambar-gambar yang telah ada dengan daya khayal yang ia miliki. Ia modifikasi gambar yang ada ke dalam bentuk yang berbeda. Ia menerapkan teknik gabung-kurangi dari bentuk yang ada. Ia hias dengan goresan baru sehingga berbeda bentuk dari yang sebelumnya. Sebuah gambar baru kemudian terbentuk. Hasilnya sangat memukau teman-teman seusianya pada waktu itu.
Teknik gabung-kurangi ini pun, ia jadikan alternatif mencari inspirasi bagi gambar-gambar yang ia buat dalam masa selanjutnya. Di waktu SMP, teknik ini pun ia gunakan. Dan hasilnya sama, mampu memukau teman-temannya yang masih sebaya dengannya. Perpaduan gambar bentang alam si ‘jenius matematika’ ia kombinasikan dengan bentuk awal gambarnya. Pada akhirnya, gambar hasil gabungan inilah yang merajai tangga kompetisi pelajaran seni rupa anak SMP.
Teknik gabung-kurang, entah bagaimana menjadi bagian yang ia tidak sadari  hadir dari cara berpikir dan cipta anak tersebut. Saat SMA, teknik ini pun ia gunakan. Tepatnya, pada saat pembuatan pidato. Ia mencari bahan-bahan yang sekira cocok. Mengumpulkan segala buku-buku, modul, lembar kerja siswa, dan lembaranb-lembaran pidato sambil berharap didalamnya ada potongan informasi yang terseret dan berserakan yang dapat dirangkai menjadi sebuah karya baru.
Seperti sebelumnya, pengalaman keberhasilan penggunaan teknik ‘gabung-kurang’ ini menjadi kunci penentu keberhasilan pidato yang ia buat. Racikan pidato yang bersumber dari berbagai potongan bentuk pidato itu menjelma menjadi sebuah pidato yang membuat guru bahasa Indonesianya berdecak kagum. Decak kagum tersebut ditambah dengan sebuah tanya, bagaimana ia membuat karya yang demikian hebat untuk ukuran satu kelas karya pidato yang telah tampil sebelumnya.
Kini ia semakin percaya diri menggunakan teknik gabung-kurang tersebut. Telah banyak cerita keberhasilan yang ia torehkan. Sudah sedemikian banyak bukti kecil hingga besar yang membuatnya menjadi platform dalam cara berpikirnya. Teknik ini kemudian menjelma dan menjadi basis dalam menilai sesuatu, mencipta, dan membuat karya.
***
Cerita anak SD di atas adalah sebuah sepenggal cerita bagaimana pentingnya dan pengaruh cara berpikir dalam menentukan sikap seseorang. Usia anak SD merupakan masa dimana anak-anak pada umumnya menggunakan potensi akalnya untuk memecahkan sebuah persoalan. Kemampuan ia menemukan solusi atas permasalahan yang ia hadapi akan menjadi sesuatu yang membekas dalam benaknya.
Pendidikan usia dini memang sangat diperlukan. Masa ini akan sangat menentukan bagaimana pola perkembangan dan cara pandang seseorang dalam menjalani hidup. Cara pandang tersebut akan mewarnai hidup dan kehidupannya sampai pada masa tertentu. Menentukan kepribadiannya. Menentukan bagaimana ia memecahkan persoalan atau permasalahan hidup.
Cara berpikir di masa kecil itu akan senantiasa menentukan pada masa-masa selanjutnya dalam hidupnya. Cara pandang tersebut akan terus hadir sampai ia sadar dengan bagaimana ia berpikir. Namun, bisa saja cara pandang tersebut berubah seiring dengan pengetahuan, pengalaman yang ia dapatkan yang terbilang ampuh untuknya.
Bisa dikatakan, cara ia mencari solusi atas permasalahan yang ia hadapi merupakan cabang dari proses berpikir yang ia bangun. Cerita di atas, memberikan gambaran buat kita bahwa anak tersebut menggunakan teknik ‘gabung-kurang’ disaat ia membuat karya cipta. Teknik tersebut belum sampai pada tataran pondasi dari seluruh cara berpikirnya. Teknik tambah kurang bukan menjadi azas atau dasar dalam berpikirnya. Ia hanya menjadi cabang, karena hanya menjadi salah satu muara solusi atas permasalahan yang ia hadapi.
Namun demikian, hal yang ingin saya sampaikan bahwa pengalaman anak atau cara ia mencari solusi atas permasalahan hidupnya akan menentukan bagaimana ia bersikap, berpikir, memperjuangkan solusi yang ia dapatkan. Ciri khas anak dalam menyelesaikan masalah berbeda satu sama lain.
Dalam cerita di atas, kita bisa mengatakan bahwa anak tersebut adalah anak yang mandiri dalam mencari jawaban yang ia miliki. Ia tidak tergantung kepada orang lain. Proses mendapatkan inspirasi secara tidak langsung tidak berhubungan dengan orang lain. Tidak ditemukan lewat interaksi dengan orang lain entah itu dengan jalan berkomunikasi dengan berbagai kepala yang ada.
Anak yang seusianya boleh jadi menemukan cara atau teknik yang bisa jadi menjadi solusi atas permasalahan yang ia hadapi. Terkadang ada yang menemukan solusi dari tiap potongan-potongan informasi dari pembicaraan  dengan berbagai macam manusia yang ada. Terkadang pula ada anak atau manusia yang kemudian tidak mampu atau mandiri untuk mencari jawaban atas permasalahannya karena ia terbiasa menemukan realitas bahwa ia tidak pernah berhasil menemukan sendiri solusi yang pas buatnya. Solusi yang ia dapati hanyalah solusi dari orang lain kemudian langkah dalam pemecahannya pun kemudian dilakukan orang lain. Dengan demikian, ia menjadi anak yang manja dan tak mampu berbuat tanpa orang lain. Ia hanya menjadi anak atau manusia yang terima jadi. Keinginannya tidaklah kuat. Ia akan menderita pada masa selanjutnya jika ia tidak bertemu atau bersama dengan orang yang mencarikan solusi untuknya dan menyelesaikan masalah yang ia hadapi.
Anak yang cenderung atau dalam masa-masa kehidupannya mencari solusi dengan jalan mencari sendiri akan terbangun mental anak yang mandiri. Namun demikian, boleh jadi ia akan menjadi anak yang pendiam karena tidak mampu mengkomunikasikan permasalahan yang ia hadapi. Solusi yang hadapi semata didapatkan dari proses mencari dan mencari berdasarkan cara ia berpikir ‘menggunakan cara ia sendiri’.
Hasilnya akan berbeda dengan anak yang terbiasa mencari solusi dari interaksi dengan orang lain. Pencarian solusi dengan jalan berinteraksi dengan orang lain bisa jadi menghasilkan kepribadian anak yang terbuka atau boleh jadi menghasilkan anak yang manja. Peran orang-orang yang berada di sekelilingnya dalam menjaga jarak dengan anak juga sangat penting.