Bismillahir rahmanir rahim…
Kesalahan Teori Kepribadian Barat dan Luar Islam
Dalam kehidupan yang kita indera, rasakan sehari-hari berbagai macam karakter, kepribadian manusia menghiasi dan mengisi dunia ini. Ada orang yang tempramen, ada yang pemaaaf, ada yang peramah, bahkan ada yang pemalu. Beragam satu sama lain, mengisi kehidupan ini dalam kedinamisan luar biasa.
Perbedaan kepribadian diantara manusia merupakan sunnatullah. Allah SWT menciptakan manusia berlainan jenis, laki-laki dan perempuan, berbeda suku, bangsa dan bahasa. Perbedaan ini menghasilkan manusia-manusia yang unik satu sama lain. Tiap manusia berbeda. Kita bisa melihat misalnya, manusia yang parasnya berbeda namun memiliki kecendrungan yang sama misalnya satu sama lain suka bercanda atau membuat humor. Namun, tidak sedikit manusia yang mirip  namun dalam hal kepribadian dan kecendrungan diri sangat jauh berbeda.
Manusia dalam bergaul akan mendapati raelitas seperti ini, bahwa manusia dalam memutuskan dan menjalankan sesuatu akan berbeda satu sama lain. Misalnya dalam memutuskan sebuah perkara ada yang bertindak hati-hati, ada yang menunjukkan sikap pling-plang dan tidak sedikit pula yang dalam memutuskan sesuatu nampaknya tidak memikirkan jauh ke depan konsekuensi perbuatannya. Baca: Berpikir tentang Konsekuensi Tindakan.
Manusia dengan segala rasa ingin tahunya berusaha untuk menganalisa, mengindentifikasi, kemudian mengelompokkan tipe-tipe atau jenis-jenis kepribadian yang dimiliki oleh manusia. Pengelompokkan didasarkan pada kesamaan kecendrungan yang teramati secara berulang-ulang.
Dalam dunia barat yang banyak meriset atau mengidentifikasi persoalan ini misalnya banyak menemukan dan memberikan gambaran bagaiamana kepribadian manusia. Banyak teori dan pengelompokkan kepribadian manusia yang telah diidentifikasi oleh orang-orang barat. Seperti misalnya, teori tentang 8 kecerdasan milik Howard Gardner, atau yang lainnya seperti teori tentang pembacaan kepribadian melalui wajah, tulisan, ataupun lewat garis tangan.
Pengelompokkan yang dilakukan memang dapat memberikan gambaran tentang kecendrungan seorang manusia terhadap suatu hal. Namun, dalam perjalanannya ada hal yang patut kita kritisi, misalnya adanya pelibatan sesuatu yang sifatnya Transendental dalam hal ini.
Dalam Islam misalnya, sikap marah itu bisa terkategori baik dan bisa pula terkategori buruk. Begitu pun dengan sifat iri hati misalnya, bisa terkategori buruk dan bisa pula terkategori baik. Orang marah tak selamnya buruk menurut pandangan Islam, ada saatnya dimana dibutuhkan sifat marah seperti disaat ada manusia yang berusaha untuk menyerang Islam dengan berbagai cara, tindakan, atau pemikiran. Marahnya manusia karena kemungkaran adalah sebuah kewajiban. Iri hati, tidak selamanya terkategori buruk. Manusia dianjurkan iri hati jika melihat muslim lain lebih taat daripada dirinya.
Dalam Islam, kepribadian atau kecendrungan manusia harus senantiasa terikat dengan hukum syara’. Kecendrungan atau pembawaan dirinya harus mengikuti dan terikat dengan hukum syara’. Oleh karena itu, perbuatan manusia tidak boleh mengikuti seluruh kecendrungan yang ia miliki. Namun, yang benar adalah mengawal kecendrungan itu agar sesuai dengan hukum syara’.
Dalam literatur Barat ataupun peradaban yang lahir bukan dari Islam tidak membatasi hal ini. Tidak marah atau jujurnya mereka semata karena peruntukan manfaat saja. Jujur misalnya dianggap sebagai siafat atau perbuatan yang baik karena bisa mendatangkan maslahat materi. Sedangkan Islam tidak demikian. Jujur tidak semata dinilai dari jujurnya itu sendiri, namun harus merujuk apakah jujur ini diatur dalam hukum syara’ atau tidak. Tidak jujur atau bohong bisa bernilai baik atau benar jika mengikuti anjuran atau aturan syara’, seperti bohongnya seorang dalam peperangan, dan lain-lain yang sejenis yang memang ada penunjukkan dalil dalam Al Quran maupun As Sunnah.
Dalam Islam, cinta dan benci seorang hamba harus senantiasa mengikuti hukum syara’. Cintanya sangat luar biasa pada ketaatan, begitupun bencinya sangat luar biasa terhadap larangan dari Allah SWT. Dengan melakukan hal demikian, ini berarti muslim tersebut telah meletakkan dirinya pada posisi dan keputusan yang benar. Menahan kecendrungan buruk dalam dirinya untuk menghindari larangan dari Allah SWT, sebaliknya akan dengan mudah melakukan suatu perbuatan baik karena itu memang sudah menjadi kecendrungan dalam dirinya namun semakin besar dan kuat dalam pelaksanaannya karena Allah SWT misalnya menganjurkan perbuatan demikian. Wallahu a’lam.