Hari Raya Imlek dan Gus Dur
Bismillahir rahmanir rahiim….!!!
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Kemarin, tepatnya Jumat, 31 Januari 2014 etnis Tiong Hoa yang ada di Indonesia merayakan tahu baru mereka, Imlek. 
Merayakan atau mengekspresikan ke khalayak apa yang yang kita yakni bukan sebuah kesalahan. Begitu pun orang-orang Tong Hoa yang ada di negeri ini bebas untuk beribadah sesuai dengan kepercayaan mereka. Semua sepakat dengan itu.
Sebelumnya, hari raya Imlek bukan menjadi hari libur nasional dalam kalender di Indonesia. Namun, di era pemerintahan Gus Dur di Republik ini, tahun baru China ini kemudian dimasukkan sebagai hari libur nasional di Indonesia.
Bagi seorang pelajar atau mahasiswa bahkan karyawan atau pekerja, mendapat libur di hari sibuk mereka bagai mendapat nikmat keluar dari penjara. Fenomena yang sering terjadi sekarang ini, merasa bebas jika banyak memiliki waktu luang. Sebuah pandangan yang salah telah bercokol. Belajar dan bekerja dianggap sebagai sesuatu yang membebani. Padahal keduanya adalah jalan untuk beribadah kepada Allah SWT.
Di tangan seorang Gus Dur-lah, orang-orang Tiong Hoa merasa mendapat tempat. Dihargai. Maka, ini menjadi salah satu alasan dari sekian alasan besar sehingga kyai ini disebut sebagai Bapak Pluralisme Indonesia.
Pluralitas Keniscayaan, Pluralisme sebuah Kesalahan
Tidak ada yang bisa menyangkal, jalan hidup, kepercayaan atau keyakinan seseorang dengan yang lainnya berbeda satu sama lain. Inilah yang dimaksud dengan pluralitas.
Pluralitas adalah sebuah keniscayaan dan pluralisme adalah sebuah kesalahan. Semua sepakat akan realitas pluralitas (keberagaman), mendebatnya berarti mendebat hidup itu sendiri. Namun, yang perlu dicermati adalah paham pluralisme itu.
Paham pluralisme adalah sebuah paham yang ingin menyandingkan bahwa tiap keyakinan, kepercayaan atau agama adalah sama. Tidak perbedaan. Semuanya mengajarkan tentang perdamaian. Yang berbeda hanyalah tata cara ibadah. Dan tentu saja, beda akidah dan beda Tuhan sesembahan.
Paham pluralisme adalah paham yang sengaja disuntikkan oleh orang-orang barat ke benak kaum muslim. Mereka menyuntikkannya ke dalam benak orang tertentu. Menapis intelektual kemudian disusupi dengan pemikiran seperti ini. Sungguh usaha yang sangat cerdas.
Apa yang bermasalah dari pluraslime?
Pertama, aspek normatif. Secara normatif, yaitu dari kacamata Aqidah Islamiyah, pluralisme agama bertentangan secara total dengan Aqidah Islamiyah. Sebab pluralisme agama menyatakan bahwa semua agama adalah benar. Jadi, Islam benar, Kristen benar, Yahudi benar, dan semua agama apa pun juga adalah sama-sama benar. Ini menurut Pluralisme. Adapun menurut Islam, hanya Islam yang benar (Qs. Ali-Imran [3]: 19), agama selain Islam adalah tidak benar dan tidak diterima oleh Allah SWT (Qs. Ali-Imran [3]: 85).
Biasanya para penganjur pluralisme berdalil dengan Qs. al-Baqarah [2]: 62 dan Qs. al-Mâ’idah [5]: 69. Dalam Qs. al-Baqarah [2]: 62 Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang Yahudi, Nashrani, dan Shabiin, barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala dari Tuhan mereka dan tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.” (Qs. al-Baqarah [2]: 62).
Ayat itu oleh kaum pluralis-inklusif, dipahami sebagai pembenaran agama selain Islam, yaitu Yahudi, Kristen, dan Shabiin. Jadi, Islam, Yahudi, Kristen, Shabiin sama-sama benarnya.
Pemahaman seperti itu salah, karena dua alasan. Pertama, pemahaman itu mengabaikan ayat-ayat lain yang menjelaskan kekafiran golongan Yahudi dan Nasrani, misalnya ayat dalam Qs. al-Bayyinah [98] atau Qs. al-Mâ’idah [5]: 72-75. Jadi, pemahaman kaum pluralis itu didasarkan pada metode penafsiran yang mengucilkan satu ayat, lalu ayat itu dipenjara dalam satu kotak sempit (bernama pluralisme), sementara ayat-ayat lain diabaikan begitu saja. Kedua, orang Yahudi, Kristen, dan Shabiin yang selamat, maksudnya adalah mereka yang beriman dan menjalankan amal saleh secara benar sebelum datangnya Muhammad Saw. Bukan setelah diutusnya Muhammad Saw (orang Kristen dan Yahudi sekarang). Sababun Nuzul ayat ini sebagaimana diriwayatkan al-Wahidi dan as-Suyuthi, adalah adanya pertanyaan dari sahabat bernama Salman al-Farisi ra kepada Nabi Saw tentang nasib kawan-kawannya dulu (Kristen) sebelum dia masuk Islam. Nabi menjawab, “Mereka di neraka.” Lalu turunlah ayat di atas yang menerangkan nasib baik mereka kelak di Hari Kiamat (Lihat kitab Lubabun Nuqul, As-Suyuthi, dan Asbabun Nuzul, Al-Wahidi).
Kedua, aspek orisinalitas. Asal-usul paham pluralisme bukanlah dari umat Islam, tapi dari orang-orang Barat, yang mengalami trauma konflik dan perang antara Katolik dan Protestan, juga Ortodok. Misalnya pada 1527, di Paris terjadi peristiwa yang disebut The St Bartholomeus Day’s Massacre. Pada suatu malam di tahun itu, sebanyak 10.000 jiwa orang Protestan dibantai oleh orang Katolik. Peristiwa mengerikan semacam inlah yang lalu mengilhami revisi teologi Katolik dalam Konsili Vatikan II (1962-1965). Semula diyakini bahwa extra ecclesiam nulla salus (outside the church no salvation), tak ada keselamatan di luar gereja. Lalu diubah, bahwa kebenaran dan keselamatan itu bisa saja ada di luar gereja (di luar agama Katolik/Protestan). Jadi, paham pluralisme agama ini tidak memiliki akar sosio historis yang genuine dalam sejarah dan tradisi Islam, tapi diimpor dari setting sosio historis kaum Kristen di Eropa dan AS.
Ketiga, aspek inkonsistensi gereja. Andaikata hasil Konsili Vatikan II diamalkan secara konsisten, tentunya gereja harus menganggap agama Islam juga benar, tidak hanya agama Kristen saja yang benar. Tapi, fakta menunjukkan bahwa gereja tidak konsisten. Buktinya, gereja terus saja melakukan kristenisasi yang menurut mereka guna menyelamatkan domba-domba yang sesat (baca: umat Islam) yang belum pernah mendengar kabar gembira dari Tuhan Yesus. Kalau agama Islam benar, mengapa kritenisasi terus saja berlangsung? Ini artinya, pihak Kristen sendiri tidak konsisten dalam menjalankan keputusan Konsili Vatikan II tersebut.
Keempat, aspek politis. Secara politis, wacana pluralisme agama dilancarkan di tengah dominasi kapitalisme yang Kristen, atas Dunia Islam. Maka dari itu, arah atau sasaran pluralisme patut dicurigai dan dipertanyakan, kalau pluralisme tujuannya adalah untuk menumbuhkan hidup berdampingan secara damai (peacefull co-existence), toleransi, dan hormat menghormati antar umat beragama (KH. Shidiq Al Jawi).  
Bersambung….