Bismillahir rahmanir rahiim…

Followers Jokowi Ecek-ecek dan Bohong

Dalam jagat dunia maya atau dunia A-real (baca: unreal), kepopuleran seseorang bisa berbanding lurus dengan kepopuleran di dunia nyata. Orang yang populer di dunia nyata, biasanya akan nangkring di atas pemberitaan dan begitu pula sebaliknya orang yang populer di media massa maka peluang untuk besar dan populer di dunia nyata memang terbuka lebar. Sehingga betul, siapa yang memegang media maka sesungguhnya dia telah menggenggam dunia.

Dan hal ini betul dilakukan oleh orang-orang terutama para politisi demokrasi hari ini. Bahasa untuk mereka dinamakan politik pencitraan. Pencitraan begitu penting untuk menjaga kesempurnaan seorang di mata orang-orang. Pencitraan, punya kesan negatif hari ini. Sebuah tindakan yang dilakukan agar seperfect mungkin, jaim (jaga image) padahal sesungguhnya tidak demikian. Walah…

Terkhusus untuk saat ini, karena bursa pencapresan begitu ramai diperbicangkan di negeri ini. Penting, karena ini menentukan nasib dan arah bangsa Indonesia ke depan. Para calon presiden menjadi sumbu pusat pemberitaan bukan semata karena rakyat Indonesia rindu pemimpin yang mampu mengayomi, namun ada berbagai kepentingan busuk para cecenguk asing yang hina. Pembicaraan tentang capres menjadi magnet tersendiri, karena daya tariknya memang luar biasa. Ada berbagai kepentingan di dalamnya.

Karena kepentingan pula berbagai cara dilakukan untuk menjadi number wahid dalam pencitraan. Kepentingan yang rusak menjadi patokan sehingga berbagai cara didobrak seakan tidak ada batasan. 

Adalah seorang Jokowi yang namanya melambung. Membumbung dan digadang-gadang sebagai calon nakhoda negeri ini. Namun, seperti yang saya katakan dari awal bahwa dibalik nama tenarnya ternyata tersimpan rekayasa dan manipulasi.

Sosial media mereka sasar sebagai salah satu konsekuensi dari menjamurnya budaya bersosial media di negeri ini. Sosial media mereka sasar karena potensi manusia yang beraktifitas di dunia maya sungguh luar biasa. Normal, jika ingin ditarik garis lurus dengan jumlah penduduk yang memang banyak. Namun, akan janggal jika kita mengetahui bahwa negeri ini sungguh menjadi peringkat tertinggi dalam penggunaan sosial media; facebook, twitter, BBM, dan lain sebagainya. Hmmm… pangsa pasar yang besar bagi para produsen tak tahu aturan, bergerak berdasarkan kepentingan perut.

Follower Jokowi yang ada twitter nyatanya hanya manipulasi. Berdasarkan proses identifikasi dari  socialbakers.com (bisa Anda melakukan verifikasi dan pengecekan secara mandiri), terlihat jika hanya 65 persen follower @jokowi_do2 yang benar-benar terverifikasi. Perlu diketahui bahwa jumlah pengikut atau follower dari seorang Jokowi sekitar 1.435.673.

Namun setelah ditelisik, hanya 65 persen follower @jokowi_do2 yang benar-benar terverifikasi. Mereka mendapatkan status ‘good’ dari laman tersebut. Artinya, mayoritas akun tersebut sudah dilegitimasi sebagai follower asli. Hanya, sisa dari follower mantan wali kota Solo itu ternyata berstatus ‘suspicious or empty’ (23 persen) dan ‘inactive’ (12 persen). Jika dikalkulasi dari total ‘follower’ Jokowi, terdapat sekitar 330.204 akun follower yang mengikuti @joko_wido2 ternyata diduga bodong. Sementara, 172.280 sisanya tidak aktif. Baca pelengkap bacaan: Terungkap, Jokowi Diduga Gunakan Ratusan Ribu ‘Follower’ Palsu

Melihat kondisi seperti ini, maka patut kita menaruh curiga. Siapa yang melakukan ini? membuat banyak sampai ratusan ribu akun untuk memperlihatkan banyaknya follower seorang figur. Apa motif mereka melakukan itu. Jika memang itu kebaikan atau kebenaran yang mau disuarkan, maka hakikat kebenaran tidak perlu dibesar-besarkan.

Saya hanya mampu mengatakan bahwa, apa yang dibawa oleh Jokowi bukanlah murni sebuah ketulusan. Memang betul wajah bisa menghipnotis, dan benar itulah yang dilakukan oleh seorang Jokowi. Wajah ndeso, sederhana, namun nyatanya hanya kebohongan belaka.

Sudah paham buat kami bahwa, di jagat twitter terdapat bisnis penambah follower orang tertentu dengan cepat, banyak dan tentunya berbayar. Jika kepopuleran tersebut didapatkan dengan jalan menggelontorkan rupiah untuk mendapatkannya, maka nalar kritis perlu dibangun. Mengapa mereka terlalu terobsesi dengan kekuasan ini? Apakah menjadi pemimpin itu begitu lezat.

Maka jawabnya, sudah kami tahu. Bahwa kalian yang lahir dan memperjuangkan demokrasi yang kufur tidak dilahirkan dan dibentuk menjadi seorang yang akan membangun dan mengayomi masyarakat. Sejatinya seorang pemimpin adalah pelayan. Mampukah kalian melakukan itu di masa demokrasi yang menggurita di negeri ini? Bekerja untuk demokrasi menghambur uang, apakah akan lahir pemimpin yang tidak menghamba kepada uang? Nihil.

Followers Jokowi Ecek-ecek dan Bohong. Damn demokrasi.