Bismillahir rahmanir rahiim…
Azzam Pemberontakan, Mengubah Realitas Buruk
Indrawirawan – Beberapa hari lalu saya mulai berazzam dalam diri saya untuk senantiasa kritis terhadap permasalahan yang saya hadapi, memikirkan lebih lanjut fakta yang saya dapatkan. Walaupun itu tidak mutlak dalam kehidupan kita, senantiasa berpikir panjang terhadap apa pun yang kita alami ataupun yang akan kita lakukan. Namun, ini saya lakukan guna melatih saya untuk berpikir dan memandang jauh ke depan. Memandang jauh ke depan, walaupun saya tahu kita semua jika diberikan oleh Allah SWT waktu yang panjang, umur yang panjang tentu masa untuk berpikir jauh ke depan akan sangat mudah buat kita, karena memang umur kita telah lanjut. Namun, akan sangat disesalkan jika masa itu baru kita rasakan jika tingkat umur kita telah berada jauh dari umur produktif.
Menambal kekurangan merupakan sebuah hal yang normal. Apalagi jika dikaitkan dengan teori mempertahankan diri, karena segala cobaan berat hanya akan menyentuh aspek terlemah dari diri kita. Walaupun masalah itu akan selalu hadir dalam tiap ruang kehidupan kita. Kecamuk akan senantiasa ada, berdampingan dengan damai ombak-ombak kecil yang menggulung di pinggiran pantai.
Berpikir jauh ke depan menjadi sangat penting buat saya, bukan berpikir secara kritis dan ilmiah karena aktivitas yang saya pilih dengan penuh kesadaran dan Insya Allah saya bermohon kepada Allah SWT agar diberikan kesadaran total dan kekuatan untuk menapaki jalan ini walaupun saya harus memulainya dari nol. Saya harus belajar mulai dari nol, mendesain kegelisahan saya kemudian membangun motivaksi dari diri saya. Ya, itulah jawaban atas segala kegundahan saya selama ini, meredesain diri saya.
Mungkin supaya hati saya plong maka saya akan share segala kegundahanku dalam bentuk tulisan ini. Media komunikasiku berada pada untaian kata-kata yang merajut dalam kalimat dan paragraf. Passionku sebelumnya adalah orang yang prestatif secara akademik. Mengejar kehormatan dan penghormatan lewat prestasi akademik dan saya juga bersyukur karena itu pula yang mengantarkanku untuk bisa mengecap dunia kampus. Dunia yang hampir berada di ujung tanduk perpisahan. Jujur, saya merasa tidak mau meninggalkannya karena ada sejuta makna yang bisa ku rengkuh darinya, ada medan latihan penuh tantangan di dalamnya, ada ruang aktualisasi di dalamnya yang bisa ku gunakan sebagai modal besar penguatan potensi yang diberikan Sang Maha Kuasa.
Passion berprestasi secara akademik mulai pudar setelah aku mendapati banyak fakta penguat yang satu sama lain berikatan membentuk sebuah kekeliruan di dalamnya. Saya merasa sangat logis jika saya meninggalkan dunia prestasi di masa sekarang ini, karena jika saya bertahan di dalamnya maka sama saja saya berperan untuk kembali menguatkan secara parsial fakta kerusakan yang ada. Padahal suguhan solusi sudah saya dapatkan, bukan sekedar solusi. Namun, mampu membungkam segala arah alasan yang saya miliki, sesuai dengan aturan Islam, Insya Allah sampai sekarang belum ada menurut saya yang melanggar Syariah Allah SWT. Syariah Allah SWT harus senantiasan dijunjung kapan pun dan dimana pun kita berada. Syariah Allah SWT adalah yang nomor satu, maka adalah sebuah konsekuensi logis buat saya untuk mengikuti syariah Allah SWT tersebut. Bukan malah sebaliknya, motivasi kemanusiaan saya yang harus dicocokkan dengan syariah Allah SWT Yang Maha Agung.
Menyendiri membuatkan mampu menarik kesimpulan dan hubungan-hubungan makna yang ku alami. Mungkin begitulah kecendrungan yang saya miliki, kesimpulan dalam kehidupan saya bukan saya dapatkan secara penuh dari kerumunan orang banyak, namun saya merefleksikan kemudian Allah SWT memberikan secercah cahaya dalam kegelapan yang saya alami. Allah Kariim.
Jikalau sebelumnya saya adalah pengumpul data dengan miskin ide dan gambaran umum apa yang harus saya lakukan maka sekarang saya ingin berusaha melihat jauh ke depan. Melihat desain secara keseluruhan, melihat lebih luas bagai memandang maket atau miniatur bangunan bukan berada di dalam bangunan, melihat detil per ruangan kemudian mendapatkan gambaran secara umum. Namun, saya akan berusaha mengkombinasikannya entah cara pandang mana yang dominan. Menghindari dikotomis karena saya ingin mendesain diri saya sebagai pemikir yang penuh dengan hikmah.
Seorang pemikir kondisi ummat, merekayasa kegelisahan, membangun pemberontakan melawan realitas buruk yang mengunkung kehidupan kami, karena saya dan kami muak dengan semua ini. Kami tidak ridha mengecap realitas yang bukan datang dari Allah SWT, kami marah karena hukum-hukum Allah Yang Maha Agung tidak diterapkan dalam kehidupan kami. Kami gerah karena segala kemaksiatan seakan berlomba menutupi cahaya kebaikan yang ada di muka bumi ini. Kami terintimidasi oleh segala kerusakan yang ada, kezhaliman kepada saudara-saudara kami. Ya Allah ampuni mereka dan diri kami.
Saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kehidupan saya di masa akan datang. Walaupun saya tahu bahwa gambaran masa depan yang akan saya temukan tentu tidak akan jauh dengan apa yang telah saya lakukan hari ini. Gambaran masa depan telah saya desain hari ini. Kaidah kausalitas telah saya rajut, hasilnya ada di masa depan. Saya bermohon kepada Allah SWT agar diberikan kebaikan hari, kekuatan untuk beramal dengan amalan orang mukhlisin agar lurus diterima olehNya. Saya pun bermohon agar diberikan keteguhan sebagaimana diberikan kepada para mujahid yang kokoh menolong agama Allah SWT.